Syed Naquib Al-Attas dan Megaproyek Islamisasi Peradaban

Menjadikan peradaban Islam kembali hidup dan memiliki pengaruh yang mewarnai peradaban global umat manusia adalah salah satu gagasan dan proyek besar cendekiawan ini. Seluruh hidupnya, ia persembahkan bagi upaya-upaya revitalisasi peradaban Islam, agar nilai-nilai yang di masa lalu dapat membumi dan menjadi ‘ikon’ kebanggaan umat Islam, dapat menjelma dalam setiap lini kehidupan kaum Muslim sekarang ini.

Seluruh daya upaya itu telah dan terus dilakukan oleh Syed Naquib Al-Attas, intelektual yang di masa kini menjadi salah satu menara keilmuan Islam modern. Proyek besarnya itu dikemasnya dalam ‘Islamisasi Ilmu Pengetahuan’ melalui lembaga pendidikan yang ia dirikan, yakni International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Kuala Lumpur, Malaysia.

Guru Besar dalam bidang studi Islam di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur ini lahir di Bogor, Indonesia, pada 5 September 1931. Moyang Naquib berasal dari Hadramaut (keturunan Arab Yaman). Dari garis ibu, Naquib keturunan Sunda, sekaligus memperoleh pendidikan Islam di kota Hujan itu. Sementara dari jalur ayah, ia mendapatkan pendidikan kesusastraan, bahasa, dan budaya Melayu. Ayahnya yang masih keturunan bangsawan Johor itu, membuat Naquib memiliki banyak perhatian tentang budaya Melayu sejak muda. Tampaknya kedua orang tuanya ingin Naquib kecil mendalami ilmu di negeri jiran, Malysia. Lantaran itu, sejak usia 5 tahun, Naquib dikirim menetap di Malaysia. Di sinilah ia mendapatkan pendidikan dasarnya di Ngee Heng Primary School.

Namun, sejak Jepang menduduki Malaya pada pertengahan 40-an, Naquib kembali ke Indonesia dan melanjutkan pendidikan menengahnya di Madrasah Urwatul Wutsqa, Sukabumi. Ia tamat sekolah atas, dan kembali ke Malaysia. Naquib sempat bergabung dengan dinas ketentaraan negeri itu, dan sempat pula dikirim untuk belajar di Royal Military Academy, Inggris.

Namun pada 1957, ia keluar dari militer dan melanjutkan studi di University Malaya. Selanjutnya, ia mengambil studi Islam di McGill University, Montreal, Kanada hingga meraih gelar master. Sementara strata doktoralnya ia raih dari School of Oriental and Africa Studies, University of London (1965). Ia lantas kembali ke Malaysia dan pernah memegang beberapa jabatan penting, antara lain Ketua Jurusan Kajian Melayu, University Malaya (UM).

Naquib sempat menjadi perhatian publik intelektual Malaysia dan mendapat tentangan keras beberapa kalangan ketika ia mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa resmi pengantar di sekolah. Saat itu, bahasa resmi pengantar adalah Bahasa Inggris.

Ia juga menentang keras penghapusan pengajaran bahasa Melayu-Jawi (yang ditulis dengan huruf Arab) di sekolah-sekolah dasar dan lanjutan. Kini, sistem tersebut masih diberlakukan di negeri jiran tersebut. Naquib memang memberi perhatian besar pada bahasa dan budaya Melayu. Ia ingin putra bumi (pribumi) benar-benar terdidik sehingga tidak menjadi obyek dari penjajahan kultural dunia Barat.

Selain itu, Naquib amat memberi perhatian besar pada bidang pendidikan Islam. Pada Konferensi Dunia Pertama Pendidikan Islam di Makkah, 1977, ia mengungkapkan konsep pendidikan Islam dalam bentuk universitas. Respons bagus muncul dan ditindaklanjuti oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang menjadi sponsor pendirian Universitas Islam Internasional (IIU) Malaysia pada 1984.

Tak hanya berhenti di situ, Naquib juga mendirikan ISTAC, lembaga pendidikan Islam yang dimaksudkan untuk merevitalisasi nilai-nilai peradaban Islam dan islamisasi ilmu pengetahuan. Lembaga ini sempat menjadi perhatian publik intelektual internasional dan dipandang sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terpandang. Sayangnya, akibat tragedi 11 September 2001, pemerintah Malaysia bersikap berlebihan dan mencurigai beberapa pengajar sebagai pengembang gerakan Islam.

Akibatnya pemerintah negeri itu mengeluarkan keputusan menggabungkan ISTAC ke dalam UM, sebagai salah satu departemen tersendiri, dan tak lagi sebagai lembaga pendidikan Islam independen. Atas berbagai prestasinya itu, Naquib meraih banyak penghargaan internasional. Di antaranya, Al-Ghazali Chair of Islamic Thought.

Sebagai intelektual dan ilmuwan Muslim yang sangat dihormati dan berpengaruh, Selama ini Naquib dikenal sebagai pakar di bidang filsafat, teologi, dan metafisika. Gagasannya di sekitar revitalisasi nilai-nilai keislaman, khususnya dalam bidang pendidikan, tak jarang membuat banyak kalangan terperanjat lantaran konsep yang digagasnya dinilai baru dan karena itu mengundang kontroversi.

Salah satu konsep pendidikan yang dilontarkan Naquib, seperti ditulis dalam The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas (199 8)yang telah di-Indonesiakan oleh Mizan (2003), yaitu mengenai ta’dib. Dalam pandangan Naquib, masalah mendasar dalam pendidikan Islam selama ini adalah hilangnya nilai-nilai adab (etika) dalam arti luas. Hal ini terjadi, kata Naquib, disebabkan kerancuan dalam memahami konsep tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib.

Naquib cenderung lebih memakai ta’dib daripada istilah tarbiyah maupun ta’lim. Baginya, alasan mendasar memakai istilah ta’dib adalah, karena adab berkaitan erat dengan ilmu. Ilmu tidak bisa diajarkan dan ditularkan kepada anak didik kecuali orang tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam pelbagai bidang.

Sementara, bila dicermati lebih mendalam, jika konsep pendidikan Islam hanya terbatas pada tarbiyah atau ta’lim ini, telah dirasuki oleh pandangan hidup Barat yang melandaskan nilai-nilai dualisme, sekularisme, humanisme, dan sofisme sehingga nilai-nilai adab semakin menjadi kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah ilahiyah. Kekaburan makna adab atau kehancuran adab itu, dalam pandangan Naquib, menjadi sebab utama dari kezaliman, kebodohan, dan kegilaan.

Dalam masa sekarang ini, lazim diketahui bahwa salah satu kemunduran umat Islam adalah di bidang pendidikan. Dari konsep ta’dib seperti dijelaskan di atas, akan ditemukan problem mendasar kemunduran pendidikan umat Islam. Probelm itu tidak terkait masalah buta huruf, melainkan berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang disalahartikan, bertumpang tindih, atau diporakporanndakan oleh pandangan hidup sekular (Barat).

Akibatnya, makna ilmu itu sendiri telah bergeser jauh dari makna hakiki dalam Islam. Fatalnya lagi, ini semua kemudian menjadi ‘dalang’ dari berbagai tindakan korup (merusak) dan kekerasan juga kebodohan. Lahir kemudian pada pemimpin yang tak lagi mengindahkan adab, pengetahuan, dan nilai-nilai positif lainnya. Untuk itulah, dalam amatan Naquib, semua kenyataan ini harus segera disudahi dengan kembali membenahi konsep dan sistem pendidikan Islam yang dijalankan selama ini.

Pada sisi lain, Naquib berpendapat bahwa untuk penanaman nilai-nilai spiritual, termasuk spiritual intelligent dalam pendidikan Islam, ia menekankan pentingnya pengajaran ilmu fardhu ain. Yakni, ilmu pengetahuan yang menekankan dimensi ketuhanan, intensifikasi hubungan manusia-Tuhan dan manusia-manusia, serta nilai-nilai moralitas lainnya yang membentuk cara pandang murid terhadap kehidupan dan alam semesta. Bagi Naquib, adanya dikotomi ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah tidak perlu diperdebatkan. Tetapi, pembagian tersebut harus dipandang dalam perspektif integral atau tauhid, yakni ilmu fardhu ain sebagai asas dan rujukan bagi ilmu fardhu kifayah.

Berkaitan dengan islamisasi ilmu pengetahuan, sosok Naquib amat mencemaskan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Sosok ini termasuk orang pertama yang menyerukan pentingnya islamisasi “ilmu”. Dalam salah satu makalahnya, seperti ditulis Ensiklopedi of Islam, Naquib menjelaskan bahwa “masalah ilmu” terutama berhubungan dengan epistemologi. Masalah ini muncul ketika sains modern diterima di negara-negara muslim modern, di saat kesadaran epistemologis Muslim amat lemah.

Adanya anggapan bahwa sains modern adalah satu-satunya cabang ilmu yang otoritatif segera melemahkan pandangan Islam mengenai ilmu. Naquib menolak posisi sains modern sebagai sumber pencapaian kebenaran yang paling otoritatif dalam kaitannya dengan epistemologis, karena banyak kebenaran agama yang tak dapat dicapai oleh sains yang hanya berhubungan dengan realitas empirik. Pada tingkat dan pemaknaan seperti ini, sains bertentangan dengan agama. Baginya, dalam proses pembalikan kesadaran epistemologis ini, program islamisasi menjadi satu bagian kecil dari upaya besar pemecahan “masalah ilmu.”

Naquib, seperti disinggung di atas, juga memberi perhatian besar pada nilai-nilai Melayu. Pemikir ini berpendapat, jati diri Melayu tak terpisahkan dengan Islam. Bahkan menurutnya, kemelayuan itu dibentuk oleh Islam. Bukti-bukti yang diajukannya bukan berdasarkan peninggalan-peninggalan fisik, tapi terutama berkaitan dengan pandangan dunia orang melayu.

Ia berpandangan, dakwah Islam datang ke wilayah Melayu sebagai “Islamisasi”. Proses ini, ujarnya, berjalan dalam tiga periode dan tahap yang serupa dengan ketika Islam mempengaruhi Abad Pertengahn Eropa. Segenap apa yang dilakukan Naquib jelas menunjukkan komitmennya tentang upaya peradaban Islam tampil kembali ke permukaan dan mewarnai kancah pergaulan.

Hingga kini, Naquib masih terus menulis. Ia tergolong intelektual yang produktif. Puluhan buku telah ia tulis, antara lain: Rangkaian Ruba’iyat; Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays; Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh; The Origin of the Malay Sya’ir; Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago.

Selain itu, ia juga menulis Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu; Risalah untuk Kaum Muslimin; Islam, Paham Agama dan Asas Akhlak; Islam and Secularism; The Concept of Education in Islam; The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul; dan The Meaning and Experience of Happiness in Islam.

Sebagian dari karyanya tersebut telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, seperti Inggris, Arab, Persia, dan Indonesia. Di usianya yang uzur kini, pemikir yang banyak pengaruhnya dalam kancah intelektualisme kontemporer ini terus aktif merealisasikan gagasan dan pemikirannya melalui lembaga ISTAC.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengapa Revolusi Ilmu Pengetahuan Terjadi di Eropa dan Bukan di Dunia Muslim?

Sejarah sains memfokuskan kajiannya dengan apa yang terjadi di masa yang lalu berkaitan dengan penemuan-penemuan ilmiah dan juga proses penemuan yang kompleks dan ide yang berkembang dari waktu ke waktu. Fokus ini perlu untuk melihat perilaku suatu masyarakat yang diduga telah memberikan sumbangan terhadap fenomena ilmiah sepanjang sejarah. Dalam rangka inilah suatu peradaban bangsa tertentu patut dihargal atas konstribusinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang saat ini menjadi monopoli Barat dan Amerika.

Banyak penulis sejarah ilmu pengetahuan berpendapat bahwa fenomena ilmu pengetahuan sekarang ini merupakan hasil mutlak dan akal barat dan berusaha mengesampingkan sumbangan bangsa lain. Mereka tertanik dengan keyakinan ini, karena fakta menunjukkan bah­wa revolusi ilmu pengetahuan memang terjadi di Eropa Barat. Bagaimanapun, mela­belkan semua khazanah ilmu pengetahuan hanya kepada Barat adalah kurang tepat. Padahal pada kenyataannya bangsa dan peradaban lainnya seperti Yunani, Gina, India dan Muslim mempunyai konstribusi yang sangat hebat, baik Iangsung mau­pun tak langsung kepada fenomena ilmu pengetahuan.

Di antara bangsa-bangsa yang konstribusinya kepada perkembangan ilmu penge­tahuan tidak bisa diabaikan sama sekali, adalah orang Muslim dengan peradaban Islam-nya. Begitu pentingnya sumbangan mereka sehingga seseorang bisa berkata dengan yakin bahwa jika orang Muslim tidak melakukan apa yang telah mereka kerjakan dalam berbagai lapangan sains, niscaya revolusi ilmu pengetahuan di Ero­pa Barat tidak akan pernah timbul pada saat itu. Seseorang juga bisa berargumentasi logis bahwa revolusi ilmu pengetahuan dapat terjadi di dunia Muslim jika saja tidak terjadi peristiwa-peristiwa yang mengganjal perkembangan sains di situ.

Permasalahan yang akan dilihat se­cara fair dalam artikel ini, adalah menganalisa faktor-faktor apa saja yang mengha­langi terjadinya revolusi di dunia Mus­lim, padahal dibandingkan dengan per­adaban lain, mereka telah mencapai tra­disi keilmüan yang lebih tinggi. Pada saat yang sama akan dianalisa juga mengapa revolusi tersebut terjadi di Eropa Barat. Untuk mengkaji masalah ini saya menga­jukan prosedur berikut. Pertama, secara sekilas saya akan memaparkan tradisi ilmi­ah (sains) di dunia Muslim, lalu menun­jukkan level tinggi yang diperoleh ii­muan Muslim, kemudian mendiskusikari peristiwa yang terjadi di dunia Muslim yang mengimbas perkembangan ilmu pengetahuan. Dan terakhir, saya akan menyoroti faktor- faktor yang memfasilitasi peristiwa revolusi ilmu pengetahuan di Eropa Barat. Dan dalam proses ini, saya akan menggarisbawahi sumbangan Islam kepada revolusi itu.



Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Dunia Muslim

Ketika banyak orang berbicara atau menulis tentang dunia muslim, mereka cenderung lebih .membatasinya dengan negara­negara Arab dan pada masyarakat Mus­lim lainnya. Mereka seringkali membuat pemisahan antara Turki, Persia, Spanyol, Byzantium, dan Arab yang mereka gam­barkan secara terpisah, seakan-akan mere­ka adalah bangsa yang mewakili perada­ban yang berbeda. Sedikit sekali orang yang menyadari bahwa peradaban Islam tidak berdiam di tempat yang vakum. Se­baliknya, ia adalah peradaban ekspansif yang merangkul berbagai ras dan bangsa ke dalamnya melalui penaklukan dan pro­paganda dan berhasil memadukan mere­ka ke dalam satu tradisi Islam. Menim­bang kenyataan ini, saya akan mengkate­gorikan dunia Muslim sebagai semua ko­munitas yang menerima pesan-peSan Is­lam tanpa membedakan jenis rasnya. Du­nia Muslim menurut saya terdiri dan se­mua orang Muslim yang terentang dan Spanyol hingga ke Asia tengah dan selu­ruh Afrika Utara (termasuk Maghribi) hingga kepulauan Nusantara di Asia Tenggara.

Tradisi ilmiah (sains) dalam masyarakat Muslim mempunyai nilai yang dikenal dengan “Islamis”, adalah dipen­garuhi dan kitab suci al-Qur’ãn. Al­Qur’ãn melalui ayat-ayatnya senantiasa menyeru kepada orang-orang yang ben-man untuk mengobservasi alam semesta dan merefleksikannya. Perintah untuk mencermati gejala alam in membekali pikiran Muslim untuk mengenali dan kemudian menerima semua ide-ide ilmi­ah yang sudah ada ketika kedatangan Is­lam. Jadi walaupun banyak tradisi ilmiah Islam yang terbukti mengadapsi dan per­adaban lain, tapi perlu dicatat bahwa kon­disi pemikiran umat Islam dalam keadaan siap, kondisi beradaptasi semacam ini, bukanlah dan pihak manapun, tapi dan faktor internal ajaran Islam. ini sejalan dengan apa yang diistilahkan oleh H.A.R. Gibb sebagai hukum mengadopsi budaya luar. Dia menguraikan ‘hukum’ tersebut kedalam tiga poin:

Pertama: Pengaruh-pengaruh Budaya (bukan sekadar cangkokan superfisial tapi elemen yang benar-benar terasimilasikan) selalu didahului dengan aktivitas yang sudah mapan dalam bidang yang ber­kaitan... Aktivitas yang sudah mapan inilah yang menciptakan faktor daya tank yang tanpa itu asimilasi yang kreatif tidak akan terwujud.

Kedua: Elemen pinjaman ini akan tu­rut menyokong vitalitas kebudayaan pem­injam sepanjang ia mendorong aktifitas yang menyebabkan peminjam sebagai yang utama. Jika mereka berkembang dengan pesat hingga menggeser atau mengancam menggantikan kekuatan spirit lokal, maka elemen itu bersifat de­struktif, bukan konstruktif... budaya yang hidup membolehkan elemen pinjaman berkembang, sepanjang ia dapat ber­adaptasi dan bergabung dengan kekuat­an lokal. Tapi dengan segala kekuatan, budaya yang hidup akan menentang ele­men luar yang tumbuh berlebihan.

Ketiga: Budaya yang hidup mengabai­kan atau menolak elemen dan budaya luar yang bertentangan dengan nilai funda­mental, sikap emosional atau kriteria es­tetikanya. Akan ada usaha-usaha untuk meniru, tetapi peniruan tidak berarti ‘pengambilan’ dan karena itu (budaya luar itu) pasti akan mati.

Inilah semangat dalam dunia Muslim dalam mengambil ide ilmiah dan dalam waktu yang sama membuang semua yang dipandang tidak sesuai dengan pandan­gan hidup Islam. Melalui ini, banyak tra­disi ilmiah yang diadopsi dan disatukan. Yang paling signifikan di antara tradisi­tradisi yang diserap orang Muslim ad­alah tradisi Yunani.

ImageOrang-orang Muslim lebih siap menyerap tradisi pengetahuan Yunani bersamaan dengan filsafatnya. Astronomi adalah salah satu ilmu pengetahuan terkuno bagi orang-orang Muslim. Pada awal 750 M, khalifah Bani Abbasiyah, Harun al-Rashid, telah mendirikan ob­servatorium di Damaskus, dimana kajian astronomi dan berbagai eksperimen di­lakukan. Banyak ahli astronomi Muslim, seperti Al-Farghani (850 M), A1-Battã-ni (858- ;929 M) dan Thãbit b. Qurra (826-901 M), berhasil membuat eksper­imen, teori dan pandangan kosmologi Islam lebih maju. A1-Battãni adalah ilmu­wan yang dikenal karena banyak pene­muannya dalam teori astronomi ternya­ta lebih akurat danipada Ptolemy (pakar astronomi Yunani) yang saat itu domi­nan. Al-Battãni mengontrol nilai dalam kemiringan ekliptik (bagian matahari yang nampak jelas di antara bintang dalam setahun) dan gerakan lambat siang dan malam, jauh lebih akurat daripada teorinya Ptolemy. Dia juga menemukan bahwa ketidakbundaran matahari senan­tiasa berubah. Kira-kira satu abad sete­lah dua penemuan itu, di Kairo, Ibnu Yunis (m. 1009 M) menggabungkan do­kumen-dokumen penelitian yang dibuat 200 tahun sebelumnya dan menyiapkan­nya untuk tabel astronomi Hakimite. Di tempat lain dalam dunia Muslim, ahli as­tronomi Iainnya membuat lebih banyak lagi eksperimen astronomi. Di Spanyol Al-Zarkali (1029-87 M) dan Kordoba merancang tabel astronomi Toledian pada tahun 1080 M.1 yang memodifikasi skema Ptolemic tentang cakrawala den­gan menganjurkan perbedaan bundar pada atap ‘epicycie’ planet mercuiy. Eks­penmen lainnya dilakukan oleh Ibn Bãj­jah dan Saragossa (m. 1139 M), Abü Bakr dan Granada (m. 1185 M) dan al-Bitruji (m. 1200-an M). Kemajuan orang-orang Muslim dalam bidang astronomi lebih signifikan dan ini adalah bukti dan ban­yaknya observatorium yang dikonstruk­si oleh dunia Muslim.

Di samping yang telah ada di Dam­askus and Baghdad, ada lagi observatoni­um terkenal: seperti di Raqqa yang dibangun oleh al-Battãni~ di Shiraz yang dibangun oleh ‘Abd Ralimãn Al-Sufi; di Hamadãn, yaitu yang dipakai oleh Ibn Sinai satu lagi di Maragha yang diban­gun oleh Hulagu Khan pada tahun 1261 M. dan digunakan oleh Nashr al-Din al­-Tusi. Di samping itu ada juga di Samark­hand yang dibangun oleh Ulugh Beh dimana para ilmuwan seperti: Qadizallah, Au Qush and Ghiyath at-Din al-Khashani menghasi!kan banyak kajian astronomi dan eksperimen. Murad, seorang Sultan Utsmaniah juga membangun observato­rium di Istanbul untuk pakar astronomi istana, Taqiyyuddin. Di samping para astronomer individu tadi, terdapat juga kelompok Ikhwãn al-Safa’ (the Broth­ers of Purity) yang mengkompilasi karya­karya ilmiahnya yang dikenal dengan rasa-il ikhwãn al-Safa’. Dalam karya ini, mereka mengembangkan teori-teori as­tronomi dan kosmologi Iamnnya seperti: astrologi, meteorologi, geologi dan geografi. Kelompok ini, yang identitas sebenarnya masih kon­troversial, hidup sekitar tahun 950-1030 M. Mereka adalah sekelompok ilmuwan tersembu­nyi yang mendiskusikan isu-isu sains dan filsafat.

Disiplin ilmu yang senantiasa berkaitan dengan astronomi ada­lab bidang matematika. Sudah menjadi fakta bahwa kebanyakan pakar astronomi di dunia Muslim adalah pakar di bidang matema­tika. Contohnya adalah al­Khawãrizmi (m. 835 M), Ibn AbU ‘Ubai­da dari Valencia, Maslama al-Majriti dan al-Andalus. (m. 1007 NI), dan ‘Umar al­-Khayyãm (1048-1132 M), mereka semua ahli matematika dan sekaligus astronomi. Kontribusi mereka dalam matematika Se­bagai ilmu pasti sungguh tidak tertand­ingi selama abad pertengahan. Con­tohnya adalah Umar al-Khayyãm, yang dikenal dengan karya kalender Jalali-nya yang sempurna dan dipakai di Persia un­tuk penanggalan. Karya beliau ini diper­cayai lebih akurat dibanding kalender Gregorian (kalender yang diperkenalkan oleh Pope Gregory XIII pada tahun 1582).

Orang Muslim juga menonjo! dalam bidang sains Iainnya, yaitu Kimia. Disitu ada Khalid b. Yazid, cucu dan khalifah pertama Bani Umayyah. Mu’awiyah ad-

alah pakar kimia pertama dalam dunia Muslim, kemudian diikuti oleh Ja’far Muhammad al-Sadiq (m. 765 M). Pakar kimia terbesar dalam dunia Muslim adalah Jãbir b. Hayyãn (m. 776 M) yang memi­liki karya-karya yang terdiri lebih dan 500 risalab yang hampir kesemuanya benisi tentang ilmu Kimia dan 40 di antaranya masih bisa dijumpai hingga saat ini. Men­gomentari karya Jãbir, C. I Figuirin men­gatakan ini:

Adalah hal yang mustahil jika menafi­kan peranan ilmu Kimia dalam perkembangan fisika modern saat ini. Para pakar kimia adalah yang pertama kali yang mempraktek­kan metode eksperi­men. Lebih lanjut, dengan menyatukan angka logis dan sejurnlah fakta dan penemuan dalam aksi molekul suatu benda, mereka telah men­gusung kimia mo­dern lebib awal pada

Razi abad kedelapan Masehi. Geber (Jãbir) telah mempraktek­kan kaidah-kaidah aliran eksperimen. Karya Geber The Suni of all Perfection and the Treatise on Furnaces, berisikan laporan tentang perkembangan dan operasi yang mengkonfirmasikan metode ini, dan ini dalam investigasi kimia).

Al-Rãzi adalah pakar kimia yang karyanya the Secret of secrels, berisi keteran­gan yang sangat jelas tentang proses kimia dalam topik-topik seperti peleburan baja, sublimasi, pengolahan caustic soda, amonia, sodium dan ammonium suiphide, pengolah­an glycerin dan minyak zaitun, dst. Al-Iraqi adalah juga contoh pakar kimia terkemuka lainnya. Tokoh-tokoh terse-but (dan masih banyak lagi) yang tidak dmragukan lagi memiliki sejumlah karya yang sangat penting bagi kimia modern dan menjadi topik inti dalam sains.

Fisika juga merupakan cabang sains yang tumbuh subur di kalangan dunia Muslim semasa abad pertengahan yang melukiskan tradisi sains yang tinggi dalam umat Islam. Karya yang sangat penting dalam lapangan ini dihasilkan oleh para ilmuwan Muslim seperti1 Qutb Al-Run Al­-Shirazi, Ibn al-Haitham (Alhazen) dan al­-Biruni. lbn al-Haitham adalah murid ter­besar Ptolemy dan Witelo dalam bidang optik. Beliau membuat penemuan yang penting dalam kajian gerakan, seperti prinsip inertia (kelembaban) dan mentras­formasikan kajian optik ke dalam sains baru. Beliau melakukan eksperimen un­tuk menentukan gerakan yang berben­tuk garis lurus pada cahaya (rectilinear mo­tion of light), sifat bayangan, kegunaan len­sa, kamera obsura yang semuanya dia kaji secara matematis untuk pertama kalinya, serta banyak lagi kajian penting dalam fenomena optik. Dalam pembiasan, be­liau rnengusulkan kecepatan empat per­segi panjang pada permukaan pembi­asaan beberapa abad sebelum Newton menemukan prinsip “least time”. Al-Birü­ni adalah pakar Fisika yang terkenal de­ngan penentangannya terhadap aliran Fisika Aristoteles, khususnya pada gera­kan dan ruang (motion and space) yang beliau serang bukan hanya dengan rasio semata tapi juga dengan observasi. Al­Birüni dipercayai mempunyai pening­galan dalam tradisi Fisika yang mendo­rong lahirnya kajian mekanik, hydrosta­tik dan cabang-cabang sains yang ber­kaitan. Ilmuwan Muslim seperti lbn Baj­ja rnengikuti jejak al-BirUni dan mengembangkan teori “inklinasi” yang diikuti peletakan dasar teori daya dorong lainnya dan konsep momentum yang ke­‘mudian dijabarkan oleh para ilmuwan barat setelah abad pertengahan.

Filsafat natural (natural philosophy) juga tumbuh subur di dunia Muslim. Di ant­ara tokoh-tokohnya adalah; Ibn Sina, a!­Farãbi, al-Kindi, al-Birüni, Ibn Rushd, Ibn Bajja, al-Ghazzãli dan tokoh-tokoh lainnya yang membuat sumbangan yang besar kepada filsafat natural. Sebagian diantara mereka sangat rajin mendukung filsafat natural Aristoteles baik dengan kata maupun ayat, seperti halnya kasusn­ya dalam filsafat peripatetik. Namun se­bagian lainnya, seperti Al-Ghazzãli, mengambil posisi bersebelahan dan terkadang sangat radikal menyikapi au-ran filsafat Aristoteles. Para pakar filsafat natural inilah yang bertanggungjawab dalam menterjemahkan filsafat Yunani kedalam bahasa Arab dan kemudian men­gusungnya ke Barat. Sumbangan mereka pada tradisi ilmiah Islam tidak kurang penting daripada sumbangan para pakar Fisika, Kimia, Matematika, Astronomi dan dokter. Mereka merupakan pakar yang benar-benar menguasai banyak di­siplin ilmu. Ibn Sina dan al-Ghazzãli adalah filosuf besar, sebagaimana juga dikenal sebagai ahli Fisika tersohor. Karya mereka di bidang kedokteran tidak kálah pentingnya dibanding dengan karyanya di bidang filsafat.

Dan pemaparan sinopsis tradisi sains Muslim di atas, membuktikan bahwa penemuan-penemuan ilmiah, eksperimen dan teori yang pernah dilakukan ilmu­wan Muslim bukanlah sempit. Sungguh tradisi mereka sangat komprehensif Un­tuk mendukung lahirnya revolusi ilmu pengetahuan. Kenapa kemudian revolu­si sains semacam ini tidak muncul di ka­langan Muslim?



Faktor-faktor yang Merintangi Perkembangan Sains di Dunia Muslim

Banyak kalangan ilmuwan, baik para kritikus maupun apologetis, dengan ber­bagai argumentasi berusaha menjelaskan mengapa revolusi sains tidak terjadi di dunia Muslim? Bukan maksud saya untuk mengangkat kembali argumentasi mere­ka, tapi suatu penelitian diperlukan un­tuk membuat kritik atas argumentasi para kritikus yang menuduh bahwa tabiat Islam sebagai suata agama adalah yang ber­tanggung jawab atas kegagalan ini. Per­vez Amrali Hoodbhoy kiranya adalah orang yang paling memperolok-olok dengan kritikannya yang cenderung ke­pada tuduhan yang tak terbantahkan. Dalam usahanya mengumpulkan argu­mentasi atas kegagalan revolusi sains ter­jadi di dunia Muslim, dia menyinggung filsafat Islam sebagai berikut:

Masyarakat yang berorientasi pada doktrin Jatalisme, atau seseorang yang ter­lalu diintervensi oleh Tuhan dan yang merupakan bagian dan matrik sebab aki­bat (kausalitas), terpaksa menghasilkan individu-individu yang kurang berhasrat menyelidiki hal-hal yang tidak diketahui dengan piranti sains.

Kemudian Amrali selalu menyindir bahwa tabiat hukum Islam te!ah men­gobarkan permusuhan selama berabad­abad terhadap elemen-elemen kapitalis yang dia anggap sebagai prasyarat perkembangan sains. Penjelasan semacam ini, yang sama sekali tidak ber­dasar dan merupakan distorsi fakta Se­jarah dan pandangan keliru terhadap Muslim dan filsafat Islam.

Image
Al-Ghazali
Di sisi lain, para apologetis menga­nggap Al-Ghazzali sebagai orang yang berperan dalam menggagalkan revolusi sains dalam dunia Muslim. Mereka berar­gumen bahwa karya al-Ghazzali tentang teologi Ash’ari dan Tasawuf memberikan pukulan telak terhadap pertumbuhan tr­adisi sains orang Muslim. Pendapat ini bertolak-belakang dengan fakta bahwa bagaimana pun al-Ghazzali sendiri ad­alah ilmuwan sains yang mempunyai sejumlah karya yang dengan tepat digam­barkan oleh Hossein Nasr sebagai berikut

“Risalah termasyur al-Ghazzali pada abad 5H/IIM yang mengkritik filosuf rasionalistik pada zamannya, menandai kemenangan akhir pemikiran intelek ter­hadap rasio-logika yang independen - sebuah kemenangan yang tidak menghan­curkan filsafat rasionalistik sama sekali - menjadikannya berhubungan dengan pengetahuan rohani/batin. Dengan hasil kekalahan dan penaklukan yang dilaku­kan oleh al-Ghazali dan tokoh-tokoh penganut silogis dan sistematis filsafat Aristoteles di abad 5 H/i I M, tradisi ilmu rohani Islam bisa bertahan hidup hingga saat ini dan tidak tercekik seperti lain­nya dalam atmosfir yang terlalu rasional­istik.”

Jikalau kritik dan apologi ditolak, maka dimanakah keberadaan argumen .yang tepat untuk menjelaskan keadaan yang menyedihkan atas fenomena sains dalam dunia Muslim khususnya setelah abad 1 3 M? Mengilas balik faktor ekster­nal dan internal mungkin dapat menun­jukkan jawaban pertanyaan ini.

Secara eksternal, dua invasi yang berdampak permusuhan telah dilakukan terhadap dunia Muslim. Kedua invasi ini adalah invasi bangsa Mongolia dan kaum Salib. l3angsa Mongolia dikenal sangat biadab, penghasut perang yang primitif yang banyak menggarong kota dan menghancurkan berbagai peradaban yang telah lama kokoh, mulai dan Cina sampai Eropa Timur. Gerombolan yang biadab ini kemudian menyerang Timur Tengah dan menguasainya selama sete­ngah abad (1218-1268 M). Selama pe­node ml mereka tidak hanya meneror masyarakat tapi juga terlibat aktif dalam menghancurkan struktur-struktur penting yang merupakan hasil sains yang agung. David Nicolle menggambarkan kerusakan ini sebagai berikut:

Image“Budaya perusakan bangsa Mongolia sangat besar dan mencakup perusakan kota dan sekolahan, pembantalan guru dan ilmuwan serta melenyapkan para ii­muwan. Para ahli menduga bahwa bang­kitnya peradaban Eropa Barat dan kon­disi budaya dan teknologinya yang ter­belakang, berganti menjadi bangsa adi daya, antaranya disebabkan oleh perusa­kan yang menimpa dunia Muslim yang dilakukan bangsa Mongolia. Kemudian dilanjutkan penj arahan pasukan Salib Konstantinopel Byzantium pada tahun 1204 M”.

Ujian selanjutnya dan invasi Mo­ngolia sungguh merupakan tabiat peru­sakan yang lebih parah dan pada perusakan kota. Mereka adalah bangsa yang berlatarbelakang pengembara. Di­mana pun mereka berpindah, mereka membawa kuda dan keledai yang tidak diberi makan dengan ma­kanan ternak, tapi digem­balakan di padang rumput. Akibatnya bangsa Mongo­lia tidak bisa jauh dan daer­ah pinggiran, ketika mereka menaklukkan kota manapun. Maka dari itu mereka tidak segan mele­nyapkan penduduk yang sudah terbiasa dengan per­tanian dimana kota tempat kerja sains bergantung.

Konsekwensi nyata dan fenomena semacam ini adalah kehidupan masyarakat yang tertimpa invasi menjadi kehilangan harmoni dan tidak menentu arahnya. Nicolle menggambarkan invasi Mongo­lia terhadap daerah-daerah Muslim Se­bagai berikut:

“Setelah menaklukkan Baghdad, Hulegu membawa pasukannya kembali ke Azerbeijan, suatu kawasan jauh utara­barat yang sekarang masuk wilayah Iran. Di daerah tersebut terdapat padang rum-put yang sangat luas yang disediakan untuk makanan kuda-kuda bangsa Mo­ngolia, sementara kota Maragha dan Tabriz disiapkan sebagai kota administra­ si. Istana Hulegu selalu berpindah-pin­ dah dan seluruh area dijadikan sebagai base-camp yang sangat besar bagi tentara predatornya. Begitulah fungsi Azer­beijan dan Hamadan sepanjang sejarah.”

Jadi, invasi Mongolia yang penuh dengan teror telah melepaskan ikatan masyarakat Muslim dengan segala ben­tuknya untuk memper~lambat semua for­malitas peradaban termasuk perkem­bangan sains. Tidak hanya pusat-pusat studi yang dirusak dan ilmuwannya yang dibunuh atau dibuat panik, tapi juga semua tempat yang nyaman untuk pen­ciptaan sains diganggu dengan hebatnya.

Efek yang sama juga dirasakan oleh dunia Mus­lim dengan invasi kaum Salib. ini adalah kelompok lain dan penghasut perang yang dilancarkan oleh Paus di awal abad 13 M yang kononnya bermaksud mem­bebaskan Jemssalem dan tangan Muslim. Berkali-kali perang Salib didengungkan selama 2 abad (1095-1290 M). Seperti halnya bangsa Mongolia, kaum Salib juga menjarah kota-kota Muslim, membunuh dan meneror penduduknya kemudian mengganggu ketenangan tempat-tempat yang kondusif bagi perkembangan sains.

Sedangkan dan sisi internal, yang paling rasional atas kemandegan sains di dunia Muslim adalah kegagalan pemimpin memanfaatkan dan mengkoor­dinasikan disiplin ilmu sains. Semenjak awal, filosof dan ilmuwan sains Muslim sangat independen tanpa bantuan yang memadai dan khalifah atau Sultan. Kon­struksi khalifah Mamun di Bayt al­Hik,nah sekitar tahun 200 H/815 M, di mana terdapat perpustakaan dan obser­vatorium adalah permulaan yang baik tapi tidak diteruskan oleh khalifah berikutnya. Di samping itu Bayt al-Hikmah lebih meru­pakan pusat riset dan pada institusi pen­gajaran. Walaupun banyak pusat-pusat kajian yang dijumpai di dunia Muslim, seperti: Ddr at- ‘Jim di Kairo (395 HI 1005 M), Nizhãm al-Mulk di Baghdad (459 H/1067 M) dan Madrasah Grana­da (750 H/1349 M), tapi semua institusi ini tidak memperhatikan masalah filsafat natural dan ilmu pasti secara murni. Hal ini berakibat pada kegagalan melembaga­kan filsafat natural dan sains. Filosuf na­tural dan ilmuwan sains Muslim !ebih nampak sebagai mndividu-individu terp­isah dan pada sebagai satu badan yang terorganisir. Mereka mempelajari filsafat secara privat dan walaupun sudah bertu­gas di istana khalifah, mereka jarang didukung dengan kebijakari pemerintah untuk mengajar filsafat natural dan sains di Madãris. Ilmuwan lainnya yang tidak mempunyai akses dengan istana, mereka bebas mengajar di halaqah-halaqah mere­ka sendiri dimana para murid datang sendiri dan mendapat untuk belajar sam­pai tamat dengan mendapatkan ijazah yang menjadi lisensi mereka untuk men­gajarkan ajaran-ajaran gurunya. Sistem pendidikan ini mempunyai masalah dan keterbatasannya sendiri. Guru terbatas dengan idenya sendiri sementara para murid hanya mempunyai akses kepada ide gurunya saja. Kondisi diskusi yang kon­dusif sesama teman sekolah atau meman­faatkan calon-calon ilmuwan hampir tidak tercipta di sini. Kondisi seperti ini ha­nya dapat tercipta jika jika sebuah insti­tusi akademi dan universitas didirikan. Dengan akademi, murid akan terekspos pada bidang disiplin ilmu yang ber­macam-macam dan oleh guru yang ber­lainan, dengan cara sistematis yang me­makai prosedur dan standar tertentu yang hams dilalui oleh para murid sampai tamat masa belajarnya. Dalam kerangka seperti inilah sains dapat diinstitusionalisasikan dalam rangka memenuhi penelitian sains yang terkoordinasi sehingga berkembang menjadi revolusi sains.

Jadi menurut saya, kegagalan revo­lusi sains dalam dunia Muslim secara in ternal lebih disebabkan oleh metode atau organisasi daripada aspek teologi. Hal ini bukanlah tabiat Islam yang menyebab­kan kegagalan Muslim dalam revolusi sains itu, tapi karena masalah organisasi yang bersamaan dengan faktor eksternal yang sudah dibicarakan di atas. Siapa tahu, jika bangsa Mongolia dan kaum Salib tidak menghancurkan lahan-lahan kaum Muslim, maka mereka pasti akan dapat merealisasikan kebutuhannya dalam meletakkan institusi yang terorganisir untuk mempromosikan pendidikan sains dalam skala yang lebih komprehensif.



Fakfor-fakfor yang Memudahkan Perkembangan Sains di Eropa

Tidak dapat diragukan bahwasanya tradisi sains di Eropa berhutang banyak kepada dunia Muslim. Di saat dunia Mus­lim telah berhasil memunculkan saintis­saintis besar dan mengembangkan tradisi keilmuan dan intelektual, orang Eropa saat itu masih merana dan terbelakang jauh di punggung sejarah keilmuan. Para penulis Eropa sendiri menandakan pen-ode ini (900-1500-an M) sebagai kegela­pan yang melambangkan keterbelakan­gan Eropa d.alam sains dan intelektual. Jadi dapat dikatakan bahwa faktor perta­ma dan utama yang membantu perkembangan sains di Eropa adalah ha­sil jiplakan dan peradaban Islam. Hasil jiplakan itu merupakan ketetapan teori­teori sains yang berwujud sebagai para­digma dasar dalam perkembangan sains di Eropa dan titik puncaknya dan semua itu adalah revolusi sains sekitar abad 17. Edward Grant, saiah satu ilmuan kontem­porer dalam Sejarah sains tidak hanya mengetahui fakta itu tetapi juga men­gakuinya. Hal ini dapat diketahui dan catatanya berikut:

Revolusi sains tidak akan terjadi di Eropa abad 17 M jika standar sains dan filsafat natural masih setaraf sains pada pertengahan pertama abad 12 M, yaitu sebelum adanya penerjemahan sains Yu­nani-Arab di pertengahan akhir abad itu. Tanpa penerjemahan yang mengubah kehidupan intelektual Eropa itu dan be­berapa peristiwa setelahnya, Revolusi sains abad 17 mustahil dapat terwujud­kan.

Jadi, penerjemahan sains dan filsafat Yunani-Arab natural ke dalam bahasa Latin merupakan syarat awal yang mut­lak diperlukan dalam upaya kemunculan tradisi keilmuan di Eropa. Poin penting dan faktor ini patut digarisbawahi, sep­erti yang diungkapkan Grant berikut:

“Dikarenakan pentingnya karya­karya terjemahan itu, peradaban Islam hams dibeni temp at yang memadai dalam sumbangsihnya dalam pencapaian dunia Barat dalam bidang sains. Beberapa abad sebelumnya, ilmuwan Muslim telah me­nerjemahkan sebagian besar sains Yunani ke dalam bahasa Arab dan kemudian memberi tambahan dan kontnibusi yang banyak terhadap aslinya sehingga ter­bentuk apa yang sekarang dinamakan sains Yunani-Arab (Yunani-lslam), dima­na terdapat karya-karya Aristoteles, berikut dengan karya komentar atasnya. Sebagian besar kerangka keilmuan ini kemudian ditransfer ke dunia Barat Se­cara terus-menerus. Meskipun sains di Barat bisa saja berkembang tanpa men­gambil peninggalan Yunani-lslam, akan tetapi sains modern sudah pasti harus menunggu berabad-abad lagi untuk la­hir, atau mungkin masih berdiam dalam rahim masa depan.

Sangatlah penting menggarisba­wahi pengakuan Grant bahwa orang Muslim ‘memberi banyak tambahan dari teks aslinya” untuk ide-ide Yunani sebelum di-transfer ke Barat - sebuah fakta yang tidak diakui oleh banyak ahli sejarah sains Barat yang subjektif. Seandainya saja orang­-orang Islam tidak memberikan tambah­an apa-apa, sudah tentu mereka sekarang tidak akan membuat klaim-klaim penting terhadap fenomeria sains saat ini.

Sebenarnya, Edward Grant bukan satu-satunya yang mengakui kontribusi besar dan orang Muslim kepada tradisi sains dan keilmuan Eropa. Sebelumnya sudah ada Goichon AM. Dalam Ency­clopaedia of Islam, entry “lbn Sina”, dia mengatakan:

Transmisi sains Yunani oleh orang Arab (baca Muslim) ke dalam bahasa Latin melahirkan pencerahan (renaissance) perta­ma di selatan Eropa mulai abad 10 di Si­silia, kemudian abad 12 di sekitar Toledo dan tidak lama kemudian di Perancis. Dua karya utama Ibn Sina, Shifa’ dan Qanün, menjadikannya master tanpa tanding dalam bidang kedokteran, ilmu penge­tahuan alam dan filsafat. Sejak abad 12 hingga 16 M, pengajaran dan praktek kedokteran [di Eropa] merujuk padanya. Karya Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya al-Rãzi juga terkenal dan dia sendiri dianggap ahli klinik terbaik tetapi buku Qanün tetap menjadi Korpus pen­gajaran yang tidak tergantikan karena buku Ibn Rushd Kitãb al-Kulliyydt fi al-Tibb hanya memuat masalah bagian pertama Qanin. Karya lbn Rushd tersebut telah diterjemahkan seluruhnya oleh Gerard dan Cremona antara tahun 1150 dan 1187 M. Ada 87 terjemahan karya itu dan beberapa di antaranya merupakan terjemahan se­bagian.

Setelah mewarisi pradigma keilmuan dasardari orang Muslim, orang Barat ke­mudian membekali dirinya dengan ilmu yang dengan segala cara bertransformasi agar siap menyambut revolusi sains. Pros­es terpenting dan transformasi keilmuan ini adalah institusionalisasi. Orang Eropa lantas membentuk institusi universitas. Ak­tivitas inilah yang menjadi fondasi sains modern sejak abad pertengahan hingga sekarang ini.

Di univeristas, dapat dilihat bagai­mana ilmu sains dan filsafat itu diatur de­ngan baik. Pengajar dan pelajar betul-betul memanfaatkan kesempatan yang sangat berguna ini. Mereka tidak hanya saling bertukar ilmu pengetahuan tetapi juga membuat penyelidikan lanjutan di dunia ilmu pengetahuan. Filsafat natural ter­nyata lebih unggul di Barat karena dapat menyerapkan karya-karya filsafat agung kedalam dunia pengetahuan. Elernen penting lainnya dalam kelembagaan ini ialah adanya kebebasan yang dinikmati oleh pengajar dan pelajar di universitas. Meskipun para guru mempunyai kesem­patan untuk mempunyai pelajar dan Ia­tarbelakang yang mapan, para murid tidak terikat atau terpaksa bergantung kepada satu guru saja. Pada saat yang sama, para pelajar dapat mempunyai lingkup mata pelajaran yang luas dimana mereka akan memilih spesialisasi. Di samping ilmu fil­safat natural dan logika, para pelajar juga dikenalkan dengan ilmu-ilmu eksakta sep­erti aritmatika, geometri, musik, dan as­tronomi, yang menjadi mata pelajaran untuk tingkatan sarjana muda (baccalaure­ate) and Master (Master of Arts). Dua jen­jang ini dan digabungkan dengan ba­nyaknya waktu yang dihabiskan pelajar di setiap jenjang tersebut sebelum kelu­lusan, merupakan indikasi bagaimana proses pembelajaran di dunia Barat men­jadi begitu terorganisir dan maju. Ham­pir semua pelajar di universitas sama-sama dikenalkan dengan kajian ilmiah. Jadi, Se­bagai lembaga yang bertanggungjawab dalam memproduksi dan melipatganda­kan ilmuwan-ilmuwan masa depan, uni­versitas, dengan segala sarananya diben­tuk untuk memfasilitasi dan memastikan berkembangnya sains di bagman dunia itu.

Image
Galileo
Di samping penerjemahan dan uni­versitas, faktor ketiga majunya tradisi keil­muan di Eropa adalah munculnya golon­gan ahli filsafat-teologi. Mereka berper­anan utama dalam menyokong filsafat se­bagai lapangan studi yang penting. Pada dasarnya merekalah yang menyelamatkan filsaf~t dan biang kemarahan gereja. Dibandingkan dengan kolega mereka di dunia Islam yang bermusuhan dengan fil­safat, ahli teologi di Barat mencari kom­promi antara filsafat dan teologi. Bahkan jika perlu teologi memakai ide-ide filsafat, misalnya Aristotel, digunakan untuk mem­pertahankan doktrin- doktrin Bibel yang tidak masuk akal seperti Trinitas dan Ekaristia (Eucharist). Fakta pertautan filsafat dengan para ahli teologi ml menjelaskan paradoks mengapa filsafat Aristotelis yang tidak disukai pihak Gereja dapat tumbuh di universitas abad pertengah­an, padahal saat itu universitas di bawah perlindungan gereja. ini bukan berarti bahwa para filosof di Barat Iebih bebas daripada di dunia Muslim . Adanya in­siden seperti pengutukan tahun 1277 M dan penganiayaan terhadap ilmuwan Se­perti Galileo (1564-1642 M) merupakan contoh nyata dan kemurkaan abadi Gereja terhadap sains yang menyebab­kan para ahli filsafat-teologi berpihak kepada sains. Begitu menyokong filsafat, para ahil teologi ini memberikan fasilitas studi di universitas. Bahkan mereka men­jadikan filsafat sebagai syarat perpelon­coan bagi pelajar yang ingin meraih ge­lar teologi dan diharuskan mendapat nilai tinggl dalam filsafat.24 Hasil dan skema ini dapat dilihat jelas dengan munculnya para saintis terkenal yang pada saat yang sama juga ahli teologi. Tokoh seperti Al­bertus Magnus, Robert Grosseteste, Joh Pecham, Theodoric dan Freiberg, Tho­mas Brandwardine, Nicole Oresme dan Henry dan Langenstein mewakili fakta ini.

Di luar faktor-faktor utama di atas, secara umum kondisi di Barat menduku­ng aktifitas keilmuan. Di antara yang ter­penting ialah suasana damai di Eropa menjelang abad 17 M. Pada umumnya adanya stabilitas sosial dan politik juga berarti adanya stabilitas mental, dan tan­panya kemajuan mntelektual tidak akan wujud. Eropa Barat tidak pernah menga­lami terror seperti yang dilakukan bang­sa Mongol dan pasukan Salib terhadap dunia Muslim. Kemakmuran ekonomi juga berkaitan erat dengan susana damai di Eropa. Negara kota di sana pada urn­umnya lebih makmur dibandingkan den­gan kesultanan di dunia Muslim. Di Ero­pa saat itu terkenal dengan perusahaan pribadi yang maju dan golongan pen­gusaha yang kaya raya. Pengusaha­pengusaha ini menjadi penopang kernak­ muran bagi semua jenis kehidupan. Orang Eropa menemukan dunia melalui lautan dan daratan, bukan hanya sekadar renca­na untuk mewadahi lahirnya ide-ide gemilang dan mengalirkan kemakmuran ekonomi, tetapi juga sebuah petualangan untuk pencarian ilmu pengetahuan. Eks­perimen-eksperimen mahal disponsori dan banyak sekali aktivitas belajar yang dibiayai. Bahkan sebenarnya, pendanaan universitas itu sukses sebagiannya karena orang Eropa banyak yang makmur.

Dengan berbekal kondisi yang san­gat menguntungkan itu, maka masuk di. akal bahwa revolusi ilmu pengetahuan terjadi di Eropa pada abad 17 M.



Kesimpulan

Munculnya revolusi ilmu penge­tahuan di Eropa abad 17 merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dibantah. Meskipun begitu, kita perlu menduduk­kan fenomena sejarah keilmuan yang penting ini secara wajar, dengan begitu perlu melihat proses dan kejadian beber­apa abad sebelum puncak revolusi. Se­bagainiana telah kita gambarkan di atas, tidak benar jika dikatakan bahwa fenom­ena saintifik sepanjang abad-abad itu ad­alah hasil usaha orang Eropa sendiri. Di bagian lain dunia, khususnya di dunia Is­lam, sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tidak kalah pentingn­ya. Sumbangan mereka sepenting elemen­elemen lain yang bergabung satu sama lain demi wujudnya revolusi. Persoalan men­gapa revolusi itu tidak timbul di tengah-­tengah mereka hanyalah sebuah kebetul­an sejarah belaka. Faktor-faktor yang te­lah kami uraikan di atas untuk menjelas­kan kemunculan ilmu pengetahuna di Eropa hendaknya jangan dianggap ekslusif untuk Eropa saja. Apapun halnya, revo­lusi sains hanya terjadi sekali dalam Se­jarah dan itu tidak memungkinkan kita membuat perbandingan. Misalnya, per­anan yang dimainkan universitas di Ero­pa boleh jadi telah dilakukan juga o!eh institusi tertentu di tempat lain. Tentun­ya revolusi sains dapat juga terjadi di China atau bahkan India, tetapi karena ia terjadi hanya di Eropa, maka kita terpak­sa mempercayai bahwa suasana dan prilaku saintis Eropa-lah yang mendor­ong terjadinya revolusi.

Sikap para Muslim ahli teologi ter­hadap filsafat hendaknya tidak dibesar­besarkan sebagai penghalang kemajuan aktifitas sains di dunia Islam. Untuk hal ini saya perlu menyikapinya dengan menyepakati Gibb tentang hukum meng­adopsi budaya luar, yang mengatakan bahwa ‘kebudayaan yang hidup dapat meminjam elemen-elemen asing untuk berkembang sebatas bahwa ia dapat di­adaptasikan dan dipadukan dengan kekua­tan-kekuatan lokal. Tetapi dengan segala kekuatan dalam menahan pertumbuhan pesat yang berlebihan, kebudayaan yang hidup juga mengabaikan atau menolak elemen-elemen kebudayaan asing yang bertentangan dengan nilai-nilai funda­mental, sikap emosional atau kriteria es­tetikanya. Dan ini persis dengan apa yang dilakukan para mutakallimun terhadap fil­safat Yunani dalam batas-batas pandangan hidup Islam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asal-usul Sains Modern dan Kontribusi Muslim (2)

Revolusi Ilmiah

ImageDalam rangka membangun sains baru, Francis Bacon menulis Novuni Organum (Instrumen Baru), Tartaglia menulis Nova Scientia (Sains Baru), Giambattista Vico Nova Scienza (Sains Baru), Kepler Astronomia Nova (Astronomi Baru), dan Galileo Two New Sciences (Dua Sains Baru).

Dalam astronomi lama, sistem Ptolemaik itu lebih dominan daripada sistem Ar­istotelian, tetapi dalam kedua sistem itu bumi adalah sentral dan tetap, benda-benda langit bergerak dalam orbit-orbit sirkular, dan alam semesta itu terbatas.

Meskipun dominan, sistem Ptolemaik berada di ujung tanduk. Ia tidak lagi meng­gambarkan realitas seperti yang sebenarnya. Misalnya, sebagai sebuah sistem mate­matis, ia membahas bulan, matahari, dan planet-planet secara terpisah dan meng­gunakan dua konstruksi independen agar dapat menentukan property simultan bulan, yaitu ukuran dan posisi bulan.

Demikian juga, ia tidak lagi sesuai dengan fenomena, dan kalender yang bergan­tung pada sistem ini adalah menyesatkan. Equant, salah satu model geometris Ptole­my, memperkenalkan ketidakseragaman (non-uniformity).
Bagi Copernicus, figur terakhir dalam astronomi lama, sistem Ptolemaik nampak merupakan sistem yang jelek, inkonsisten, tidak jelas, dan rancu. Ia khususnya mene­mukan bahwa penggunaan equant itu memuakkan, karena memperkenalkan ketidak­seragaman dengan kedok keseragaman adalah bertentangan dengan semangat astronomi lama. Mengenai hal ini Copernicus lebih konservatif daripada Ptolemy.

Menurut Copernicus, sistem raksasa Ptolemy nampaknya tidak dapat merefleksikan keindahan pikiran Tuhan. ltulah mengapa ia menukar posisi bumi dan ma­tahari untuk membuat sistem Ptolemaik berjalan dengan lebih baik. Dengan demikian, ia hanya membuat beberapa revisi saja ketimbang merevolusi teknis astronomi.

Walaupun sistem baru Copernicus tidak lebih akurat daripada sistem Ptole­maik, namun ia lebih konsisten, sederha­na, dan secara estetika lebih indah. Ia pada dasarnya menjelaskan tatanan planet, ge­rak-gerak yang tidak mundur dan gerak­gerak tak teratur lain dan benda-benda langit dengan memakai gerak-gerak bumi dalam cara yang sistematis dan menyatu.

Memang, prestasi terbesarnya adalah mematematisasi sistem heliosentris, teta­pi ia masih memakai model-model Ptole­maik, seperti epicycles on deferents (poros lingkar kecil benda langit berorbit di garis lingkar besar bumi), eksentrika (kegan­jilan), dan epicycles over epicycle (pergerakan dalam garis lingkar kecil). Terlebih lagi, ia percaya pada keterbatasan alam semes­ta dan eksistensi bola-bola langit, seperti dapat kita tangkap dengan mudah dan judul buku utamanya, De revolutionibus orbitum coelestiurn (Mengenai Gerakan-Gerakan Bola-Bola Langit).

Apa yang Copernicus capai dalam astronomi teknis adalah konservatif, karena ia tidak memisahkan din dan yang kuno, tetapi kembali kepada otoritas para filosof Yunani seperti kaum Pythagorean, Hera­clides dan Pontus, dan Aristarchus dan Samos yang telah mengusung ide bumi bergerak. Walaupun ia tidak revolusioner dalam astronomi matematis, ia cukup re­volusioner dalam fisika, kosmologi, dan teologi—hal-hal yang tidak ia kuasai. Dengan kata lain, yang menjadi revolu­sioner bukanlah sistemnya tetapi kon­sekuensi dan sistemnya. Misalnya, bumi kehilangan signifikansi kosmisnya dan ben­da-benda fisik dalam alam semesta ini berkedudukan sama menurut sistemnya

Poin lain yang perlu dicatat adalah bahwa sistem Copernicus tidaklah sesuai dengan fisika Aristoteles, karena ia me­nempatkan matahari di tengah alam semes­ta (universe) dalam artian fisik dan dengan demikian merusak fisika Aristotelian. Ke­tika para astronom menyadari niat Coper­nicus sebenarnya dalam hubungannya de­ngan fisika, mereka mulai menentangnya. Misalnya, Tycho Brahe, astronom Den­mark, menolak sistem Copernican ber­dasarkan alasan-alasan fisika. Menurutnya, seandainya Copernicus benar, yaitu jika bumi bergerak mengelilingi matahari de­ngan kecepatan tinggi, kita sepatutnya harus mendeteksi perubahan-perubahan ukuran dan jarak bintang-bintang, yaitu penjajaran bintang (stellar parallax). Namun, pada saat itu tidak ada seorang pun yang dapat mendeteksi suatu penjajaran.

Untuk membalas serangan ini, Coper­nicus membela din dengan mengatakan bahwa karena jarak antara bumi dan bin­tang-bintang luar biasa jauh, maka keselu­ruhan orbit bumi akan nampak seperti ti­tik dalam jarak tersebut. Tetapi Tycho menemukan bahwa jarak yang luar biasa jauh itu tidak estetis dan sukar dipercaya. ltulah mengapa ia membangun sistem baru di mana bumi itu sentral dan tetap, bulan dan matahari berotasi mengelilingi bumi, dan planet-planet mengelilingi matahari pada orbitnya. Untuk pertama kalinya ia menolak eksistensi bola-bola langit, kare­na dalam sistemnya orbit-orbit Merkuri­us, Venus dan Mars bersinggungan dengan orbit matahari. Sebagai entitas solid, bola­-bola itu tidak dapat bergerak secara be­bas jika mereka bersinggungan satu sama lain.

Tycho Brahe mengumpulkan data akurat selama lebih dan dua puluh tahun dengan bantuan instrumen-instrumen be­sar dan banyak asisten untuk dapat me­mecahkan masalah-masalah astronomi teo­retis secara sekaligus. Kepler, dengan~ menggunakan data Tycho, menemukan tiga hukum deskriptif bagi benda-benda la­ngit. Hukum pertamanya—sebetulnya hu­kum kedua dalam proses penemuan— menyatakan bahwa planet-planet berge­rak dalam orbit elips mengelilingi mataha­ri yang ia (matahari) sendiri menempati salah satu dan pusat elips.

Kepler pertama-tama mencoba untuk mencocokkan data Tycho ke dalam sistem Copernican, tetapi apapun yang ia kerja­kan ia tidak menemukan kecocokan yang sempurna antara orbit sirkular Mars de­ngan data Tycho. Setelah bergelut de­ngan masalah ini, paling tidak selama enam tahun, ia menemukan bahwa orbit-orbit planet itu elips. Dengan penolakan atas orbit-orbit sirkular yang telah terta­nam dalam pikiran manusia selama dua pu­luh abad, Kepler merevolusi astronomi.

Dalam fisika, Galileo menggagas ge­rak lamban (inertial motion) secara orisinil dan revolusioner sehingga ia dapat mem­pertahankan sistem Copernicus dari sudut pandang fisika. Menurut Galileo, jika bumi bergerak dan jika kita menjatuhkan sebongkah batu dari atas menara, objek itu akan mendarat pada bagian bawah menara, tetapi tidak ke jurusan barat se­bagaimana diklaim oleh Tycho Brahe dan anti-Copernican lainnya, karena objek itu akan mengikuti gerak bumi atau ia akan mempunyai gerak lamban (gerak horizon­tal) dan mula hingga akhir. Dengan cara ini, Galileo telah melepaskan salah satu dan keberatan-keberatan kaum anti-Co­pernican.

Selanjutnya, Galileo menggunakan teleskop untuk tujuan-tujuan astronomi untuk pertama kalinya dan membuat ba­nyak observasi. Ia menemukan banyak bin-tang baru, titik-titik di matahari, fase-fase Venus, satelit Jupiter, cincin Saturnus, dan permukaan bulan yang kasar, dan secara sukses menggunakan semua observasi ini untuk membela sistem Copernican. Mi­salnya, bulan itu seperti bumi. Ia penuh dengan kawah, wilayah-wilayah gelap (sama seperti lautan di bumi), bukit-bu­kit dan gunung-gunung. Maka bulan itu adalah besar, sangat besar, dan berat, dan, sejauh kita ketahui, siapapun tidak kebe­ratan dengan ide gerak bulan. Lantas me­ngapa harus ada orang yang keberatan de­ngan ide gerak bumi, objek lain yang se­perti bulan?

Dalam babak akhir Revolusi llmiah, Isaac Newton menemukan heterogenitas cahaya dan hukum kekuatan gravitasi. Dalam mekanika ia menambahkan kate­gori ketiga, yaitu kekuatan (force) atas materi dan gerak, dan merumuskan hukum gravitasi universal secara matematis, dan dengan memakai hukum baru itu ia dapat menjelaskan seluruh gerak dalam alam semesta.

Setelah prestasi besar Newton, para pemikir periode Pencerahan mendewakan manusia dan mendasarkan segala sesuatu pada kekuatan rasional. Maka, disebabkan oleh dampak Revolusi Ilmiah, pandangan dunia mekanis dan sekular telah mencapai puncaknya dan mulai berdaulat penuh di Barat. Dalam kata-kata Profesor Al-Attas:

Dan abad ke-17 hingga ke-19 Pence­rahan Eropa dihubungkan dengan, dan memang merupakan kelanjutan dan, Re­naissance. Periode ini dicirikan dengan semangatnya untuk materialisasi dan seku­larisasi manusia ideal dalam masyarakat ideal. Para filosof naturalis menulis tentang hukum alam, agama alamiah, dan menekankan pada kemanusiaan, kebe­basan, kemerdekaan, keadilan. Ide-ide mereka menjadi kenyataan di Amenika dan dijadikan sebagai filsafat dasar bagi Inde­pendensi. Jika renaissance berarti ‘terlahir’, dan enlightenment menandakan ‘datangnya abad’ manusia Barat dan keadaan bayi yang mana rasionya harus bergantung atas ban­tuan yang lain, kini disebut sebagai telah matang dan penuh pengalaman untuk mengarahkan jalannya sendiri.



Profesionalisasi Sains

Selama abad kesembilan belas struk­tur institusional dan sosial Gains berubah drastis. Terutamanya, kernunculan sains se­bagai profesi pada abad tersebut telah menyebabkan revolusi ilmiah yang kedua yang sama pentingnya dengan yang perta­ma dalam memahami dunia han ini. Profesionalisasi sains akhirnya menghasilkan teknologi berbasis sains dan juga pertautan universitas, pemerintah, dan industri. Untuk memahami bagaimana perubahan­-perubahan penting ini terjadi, mari kita perbandingkan kesempatan-kesempatan pendidikan dan profesi yang mempengaru­hi sains di Inggris, Perancis, dan Jerman.

Dalam abad ketujuh belas dan kede­lapan belas, ilmuwan-ilmuwan di lnggris tidaklah profesional. Datang terutamanya dan kelas atas (upper class), mereka mem­punyai kekayaan dan waktu luang, dan bagi mereka sains adalah suatu hobi. Sebagai filosof alam, mereka menekuni seluruh wilayah sains tanpa mempertimbangkan kegunaan atau kepraktisannya, tetapi beru­rusan dengan sains demi sains itu sendiri.

ImageUniversitas-universitas, sebagai kerangka-tradisi, menawarkan pendidikan kiasik, yakni mengajarkan tujuh kuliah li­beral dan filsafat alam Aristotelian. Sete­lah menerima gelar masternya dan fakul­tas sastra, seorang mahasiswa dapat meng­hadiri salah satu dan fakuftas-fakultas lan­jutan yang meliputi fakultas-fakultas hu­kum, kedokteran, dan teologi. Karena pengajaran dan kerja penelitian aktual itu terpisah, para ilmuwan tingkat pertama lnggnis tidak berafiliasi dengan universi­tas. Terlebih lagi, pemerintah Inggris se­cara finansial tidak mendukung sains.

Revolusi industri untuk pertama kali terjadi di lnggris pada tahun 1780-an dalam industri tekstil, batu bara, dan in­dustri besi yang semata-mata bergantung pada karya tangan, dan hasilnya adalah Inggris menjadi negara nomor satu dalam bidang industri-industri tensebut.

Revolusi industri pertama yang tidak bersifat ilmiah, tentu saja, tidak dapat dan tidak memprofesionalisasi sains, tetapi mempenganuhinya secana massif. Dengan benkembangnya industri tekstil, batu bara dan besi, masyanakat ilmiah banu pun ben­munculan di Leeds, Birmingham, Manchester, Bristol, dan Newcastle, dan anggota-anggota dan masyarakat ini a­dalah para pemilik pabnik, ilmuwan, in­siriyur dan lulusan fakultas sastra. Para il­muwan dalam masyarakat ini mencoba untuk memecahkan masalah-masalah in­dustri dengan aplikasi pengetahuan ilmi­ah. Dengan cara ini sains mendapatkan bentuknya yang utilitarian.

Sebagai produk dan Revolusi Indus­tn, asal-usul sosial (social origin) para ilmu­wan juga bergeser dan kelas atas (upper class) kepada kelas menengah (middle class) dan kelas bawah (lower class). Pada abad ketu­juh belas, hanya 47 persen dan para ii­muwan yang datang dan kelas menengah dan bawah, sementara pada akhir abad kedelapan belas, 82 persen para ilmuwan berasal dan kelas-kelas tersebut.

Pada abad kedela­pan belas, pendidikan klasik, yang merupakan hak prerogatif kelas atas pada abad ketujuh be­las, mendapatkan sera­ngan yang serius, dan ka­jian matematika menda­patkan tempat utama di universitas-universitas.

Sekalipun dengan pe­rubahan ini, para sarjana dan universitas-universi­tas lnggris masih dapat hidup senang atau men­jadi dokter, pengacara atau teolog, teta­pi tidak sebagai ilmuwan profesional.

Walaupun Inggris tidak kekurangan pakar-pakar sains seperti Herschel, Jo­seph Black, Davy Faraday, Dalton, Play­fair, Priestley, Cavendish, dan Brewster, negeri ini kekurangan sistem pendidikan untuk melatih ilmuwan profesional atau ilmuwan kelas-dua.

Di Perancis, dengan Revolusi Peran­cis, seluruh universitas dan sekolah yang berafiliasi dengan gereja atau pendidikan klasik ditutup, dan diganti dengan sistem pendidikan sentralistis baru yang disebut acole centrale. Pada sekolah-sekolah dan universitas yang baru dibangun itulah penekanan ditumpukan pada ilmu-ilmu alam seperti matematika, fisika dan kimia ketimbang bahasa Latin dan Yunani. Hara­pannya, matematika dan fisika dapat men­jadi penawar pada prasangka-prasangka dan cara pikir lama dan ide-ide demokratis dan rasional dapat dimasukkan ke dalam pemikiran mahasiswa.

Memang, Revolusi Perancis merupa­kan upaya untuk menerapkan ide-ide Pencerahan pada isu-isu sosial dan poli­tik, tetapi apa yang lebih menjadi per­hatian kita adalah bahwa para arsitek re­volusi itu telah memahami secara benar peran utama dan fundamental sains murni sebagai fondasi teknologi.

Pemenintahan Perancis mendukung dan mengarahkan profesionalisasi sains dengan menawarkan kerja kepada ilmu­wan kelas-pertama pada sekolah-sekolah dan universitas-universitas baru, dengan menyiapkan imbalan untuk mendorong penelitian-penelitian yang berharga, dan dengan mengintegrasikan pengajaran dan kerja penelitian aktual—dua hal di Ing­gris yang memang terpisah.

Pendidikan ilmiah dalam artian mo­dern itu tidak ada sebelum ãcole Polytech­nique didirikan pada tahun 1794 sebagai sekolah teknologi untuk memenuhi ke­butuhan praktis Republik tersebut. Sekolah unik ini berisi sains-sains teore­tis dan praktis dan untuk pertama kalmnya memperkenalkan laboratorium-laborato­rium penelitian untuk fisika dan kimia, se­hingga dapat membangun tradisi baru yang penting yang terus berlanjut hingga sekarang.

Di antara para professor ãcole Poly­technique, kita lihat para ilmuwan terke­nal Perancis seperti Monge, Fourier, Lagrange, Laplace, Prony, Poinsot dan Berhollet. Disebabkan keunikan dan keterkenalan dosen-dosen fakultasnya, banyak mahasiswa-mahasiswa luar negeri seperti Justus Liebig, Count Rumford, Alexander von Humboldt, dan Volta da­tang ke sekolah ini.

Sentralisasi pertama kali memang te­lab membuktikan dirinya berguna, namun ia kemudian menjadi halangan bagi pen­didikan ilmiah di Perancis. ltulah menga­pa Perancis kehilangan kepemimpinannya dalam pendidikan ilmiah, kalah oleh Jer­man setelah dekade pertama abad kesem­bilan belas, terutama setelah Napoleon melakukan militerisasi ãcole Polytechnique dan menyatukannya dengan universitas-­universitas lain.

Sebelum Revolusi Industri, orang-­orang Jerman telah memperbarui sekolah­sekolah mereka berkat para pengelolanya yang berwawasan jauh. Untungnya, dan disebabkan oleh struktur politiknya, pen­didikan juga didisentralisasi di Jerman, dan kompetisi sehat antara universitas-universitas dan berbagai negara bagian ielah memunculkan kualitas pendidikan.

Alih-alih menutup universitas-univer­sitas tua, orang-orang Jerman membuka universitas-universitas baru yang menitik­beratkan pada ilmu alam agar dapat menye­lamatkan universitas-universitas tua tersebut dan kepunahan. Mereka juga mendi­rikan sekolah-sekolah teknik baru atau Technisches Hochschulen, yang dipola­kan mengikuti cicole Polytechnique, yaitu untuk memenuhi kebutuhan industri dan komersial masyarakat.

Orang-orang Jerman memahami peran sentral sains dalam teknologi dan un­tuk menitikberatkan poin tersebut mere­ka mengajarkan ilmu-ilmu alam sekalipun di sekolah-sekolah teknik. Utamanya, ker­ja penelitian dalam kimia dilakukan di laboratoriurn-laboratorium sekolah­-sekolah praktis tersebut. Mengenai pe­nguasaan ilmu-ilmu alarn, kita juga meli­hat bahwa terdapat kompetisi yang tajam antar universitas dan sekolah -sekolah teknik. Untuk berkompetisi secara efek­tif dengan sekolah-sekolah teknik, univer­sitas-universitas juga mengajarkan aplikasi-aplikasi sains.

Maka tidaklah heran jika Jerman menikmati keunggulannya disebabkan penggunaan laboratoriurn-laboratoriurn penelitian secara efektif di universitas­universitas dan sekolah-sekolah teknik. Beberapa ilmuwan seperti Henry Rose, Gustav Magnus, dan Purkinje mendirikan laboratorium-laboratoriurn penelitian di ternpat tinggal mereka. Terutarna sekali, laboratoriurn penelitian kimia Justus Liebig pada Universitas Giessen mendapat­kan reputasi yang luas disebabkan oleh pentingnya industri kirnia. Liebig dapat mengilhami dan mendorong antusiasme­nya kepada para rnahasiswa, dan sebagai hasilnya tesis-tesis doktoral pun mulai membanjiri laboratoriumnya. Pada gi­lirannya, rnahasiswa yang dilatih oleh Liebig rnenyebarkan pengajaran laboratori­urn tersebut ke banyak ternpat.

Para ilrnuwan~profesional Jerman juga telah mendirikan masyarakat baru dan mulai berkurnpul di banyak kota setiap tahun dengan dukungan antusias dan raja. Masyarakat ini, yang disebut “Gesellschaft Deutscher Naturforscher und Artze” di­uruskan semata-rnata oleh para ilmuwan profesional yang telah rnenerbitkan be­berapa artikel selain disertasi doktoral mereka, dan para ketua masyarakat ini diganti setiap tahun untuk membuat masyarakat tersebut tetap dinarnis. Dengan kerja serius mereka para ilmuwan te­lah rnendapatkan perhatian publik dan pernerintah dan rnendapatkan dukungan finansial yang cukup dan berbagai pihak. Walaupun mereka rnendapatkan dukungan finansialnya terutarna dan pemerintah, rnereka tetap rnenikrnati atrnosfir kebe­basan yang luar biasa.

Dengan kondisi-kondisi yang me­nguntungkan inilah Jerman mampu men­cetak banyak ahli kimia profesional, de­ngan kata lain, bukan para jenius, tetapi para ilrnuwan kelas dua dan tiga yang da­pat bekerja dalarn laboratoriurn-labora­toriurn industri. Sejak Inggris kekurangan ilmuwan profesional, Jerrnan dengan rnudah mengambil alih kepemimpinan industri pewarnaan (celup) dan untuk per­tarna kalinya rnernulai teknologi berbasis­ sains, yaitu pada perrnulaan sains-terapan, antara tahun 1858 dan 1862. Para ahli kimia Jerrnan rnengganti celup binatang dan tumbuhan dengan substansi-substan­si yang diproduksi secara ilrniah. Secara lebih khusus, mereka mendapatkan ba­han-bahan celup sintetis yang lebih baik dan tar batu bara yang diirnport yang ke­mudian diproses secara kirniawi. Sete­lah 1870 Jerman juga menjadi pemimpin dalarn industri-industri listrik, baja, minyak, kimia, dan mesin pembakaran in­ternal.

Dengan mengikuti model Jerman, Amerika Serikat pada akhir abad kesem­bilan belas juga memprofesionalisasi sains. Sebagai indikasi dan perkembangan ini, maka path tahun 1890 didirikanlah Ameri­can Associaton for the Advancement of Science, sebagai masyarakat ilmuwan profesional pertarna. Menjelang tahun 1900 Arnerika Serikat berencana menjadi kekuatan industri dan ekonomi yang penting dan, ter­utama setelah Perang Dunia Kedua, mengambil alih kepemimpinan hampir di setiap bidang.



Kesimpulan

Disebabkan oleh teknologi berbasis ­sains, hubungan antara universitas, peme­rintah dan industri telah berkembang tanpa dapat dibendung. Kini para ilmuwan mempengaruhi kebijakan-kebijakan pe­merintahan ataupun industri-industri, dan juga mendapatkan posisi-posisi tinggi pada hampir setiap cabang pemerintah­an. Misalnya, di Amerika Serikat mereka memberi nasihat kepada Presiden dan Kongres tentang isu-isu penting (keba­nyakannya bersifat ilmiah).

Sebagaimana telah kita lihat, sains betul-betul telah menjadi faktor pembe­da utama dalam memisahkan periode modern dengan periode pertengahan dan periode kiasik, terutama setelah ia betul­-betul mempengaruhi teknologi. Namun, kini kita juga menyadari bahwa sains itu hanya merupakan instrumen yang dicip­takan oleh para filosof dan ilmuwan. De­ngan demikian, sains ataupun teknologi berbasis-sains sebagai instrumen buatan manusia yang mempunyai keterbatasannya sendiri tidak dapat kita harapkan sebagai obat mujarab bagi segala penyakit di du­nia yang kini kita hadapi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asal Usul Sains Modern dan Kontribusi Muslim (1)

Peradaban Barat menjadi lebih berbeda dan lebih kuat dibandingkan dengan peradaban-peradaban lain disebabkan oleb adanya perubahan revolusioner seperti Revolusi Keilmuan, Revolusi Perancis, Revolusi Industri, profesional­isasi ilmu, interaksi rapat antara ilmu dan teknologi dan revolusi-revolusi abad ke-20 dalam ilmu yang saling berkesinambungan yang pada akhirnya tidak hanya mempe­ngaruhi Barat itu sendiri, tetapi juga seluruh dunia. Jika kita perhatikan, faktor-faktor yang paling penting dalam revolusi-revolusi ini ada!ah teknologi dan sains. Teknolo­gi, yang meliputi pengetahuan praktis, telah dirnulai oleh manusia pertama dan sains telah dimulai oleh para filosof Yunani pertama sekitar 600 SM. Namun, sains sebelum Revolusi llmiah serta sebelum Revolusi Industri, merupakan subyek yang timbul tenggelam secara bergantian dalam peradaban-peradaban yang berbeda. De­ngan Revolusi llmiah dan Industri, sains maupun teknologi menjadi tiang utama dalam peradaban Barat, tetapi sampai dekade pertengahan abad ke- 19, keduanya mengikuti jalan-jalan yang berbeda dan independen. Teknologi, terutamanya, telah berkembang tanpa suatu input ilmiah.

Namun, pada dekade pertengahan abad ke-19 dengan industri pewarnaan (celup) yang berorientasi pada kimia, sains dan teknologi untuk pertama kalinya mu­lai betul-betul berinteraksi dan sejak itu teknologi berbasis sains menjadi faktor yang penting dalam mengubah masyarakat modern secara drastis. Tidak diragukan lagi bah­wa dengan interaksi sains dan teknologi, peradaban Barat mengukqhkan kembali su­perioritasnya atas bangsa-bangsa lain dan mengokohkan dominasi dan ketinggiannya.

Sains, sebagai fondasi dan mesin teknologi, telah dan masih menjadi senjata rahasia Barat yang canggih. Mengingat ia merupakan usaha keras yang abstrak dan tak nampak, adalah mudah untuk melupakan dan menyepelekan betapa pentingannya sains. ltulah mengapa bangsa-bangsa Islam atau Timur salah kaprah mengidentifikasi peradaban Barat dengan piranti-piranti teknologis seperti kendaraan, alat-alat us­trik, televisi, radio, telepon, pesawat, sen­jata nuklir, dan sebagainya, dan mencoba untuk mengimitasinya yang pada akhirnya merugikan mereka sendiri. Kita harus sa­dar bahwa sains itu bukan teknologi. Sains berhubungan dengan ide-ide dalam cara­cara yang abstrak sernentara teknologi bertujuan memproduksi benda-benda yang dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup. Dengan kata lain, teknologi meru­pakan aplikasi pengetahuan ilmiah, dan tanpa pemahaman dan penguasaan Ian­dasan ilmiah, hanya memproduksi piran­ti-piranti teknologis melalui imitasi adalah sangat berisiko. Ka!au bangsa-bangsa Mus­lim atau Timur tidak mengambil alih kepemimpinan ilmiah dan Barat, supre­masi Barat dalam teknologi berbasis sains akan terus berlanjut.

Kaum humanis Italia pada periode Renaissance membagi sejarah budaya men­jadi periode kuno, pertengahan, dan mo­dern, dan mengidentifikasi periode mo­dern dengan perubahan dan kemajuan.

Dalam tulisan ini kita akan menelu­sun secara luas asal-usu! pembedaan Barat dan dunia lain dengan membahas perubahan dan kemajuan sains dalam pe­node pertengahan dan modern. Namun, dalam melakukannya atau untuk mendapat­kan gambaran besar bagi topik ini, kita perlu membandingkan dan membedakan Islam dan Barat. Walaupun orang Muslim dahulu tidak ingin melepaskan din dan paradigma-paradigma. Aristoteles dalam fisika, Ptolemy dalam astronomi dan Ga­len dalam ilmu kedokteran, mereka me­nyiapkan landasan bagi Revolusi Ilmiah dan bahkan membuat kontribusi-kontri­busi yang sangat penting bagi fondasi uta­ma sains modern. Orang-orang Barat per­tama-tama belajar danmengasimilasi apa yang telah dicapai umat Islam di semua lapangan, kemudian melalui perubahan­perubahan revolusioner tertentu mengam­bil alih kepemimpmnan, terutama dalam teknologi dan sains, dan juga dalam urus­an-urusan militer dan politik. Ketika akhirnya mereka menggabungkan sains dan teknologi pada abad kesembilan belas, mereka mengukuhkan kembali kekuasaan mereka dan menjadi tak terkalahkan.



Umat Islam Pionir Sains Modern

Asal-usul sains modern, atau Revolu­si I!miah, berasal dan peradaban Islam. Memang sebuah fakta, umat Islam ada!ah pionir sains modern. Jika!au mereka tidak berperang di antara sesama mereka, dan jika tentara Kristen tidak mengusirnya dan Spanyol, dan jika orang-orang Mongo! tidak menyerang dan merusak bagian-bagi­an dan negeri-negeri Islam pada abad ke­13, mereka akan mampu menciptakan se­orang Descartes, seorang Gassendi, seor­ang Hume, seorang Copernicus, dan se­orang Tycho Brahe, karena kita telah me­nemukan bibit-bibit filsafat mekanika, em­pirisisme, elemen-elernen utama dalam heliosentrisme, dan instrumen-instrumen Tycho Brahe, dalam karya-karya A!l-Ghazãli, lbn Al-Shãtir, para astronom pada observatorium Maragha, dan karya-karya Takiyuddin.

Al-Ghazali, untuk pertama kalinya, menghancurkan otoritas Aristoteles dan pada saat yang sama menabur bibit-bibit filsafat mekanika, fondasi rnetafisika un­tuk sains modern. Maka kontribusinya itu tidak hanya destruktif, tetapi juga kons­truktif.

Image
Al-Ghazali
Alih-alih menghambat perkembang­an sains, al-Ghazãli adalah seorang agen dalam memfasilitasi kemajuan yang lebih jauh. Sebagai seorang individu, ia telah mencapai untuk pertama kalinya antara tahun 1094 dan 1108 hal-hal yang sama seperti apa dicapai orang-orang Eropa selama lima abad, yaitu dan akhir abad ke- 12 hingga abad ke- 17. Dengan demiki­an, ia mensimbolisasikan individualisme, suatu pemikiran yang bernilai pada zaman Renaissance, dalam cara yang paling balk, dan, alih-alih mengikuti otoritas filsafat, ia menyerang dan menghancurkan ide-ide bid’ah Aristoteles dan Aristotelianisme dalam tiga tahun, yaitu dan tahun 1092 hingga 1095.

Dia telah menunjukkan anomali­-anomali pada Aristotelianisme dalam pan­dangan teologi Islam, membentangkan dasar-dasar metafisika Descartes, men­dukung kepercayaan atomistik dengan mengemasnya dalam kemasan teologis jauh sebelum Pierre Gassendi meng-Kris­ten-kan atomisme, dan menolak keharu­san kausalitas, yang dengan demikian mendahului David Hume. Tentu saja, de­ngan pernyataan-pernyataan ini saya tidak mengklaim adanya suatu pengaruh lang­sung, tetapi mencoba menemukan paralelisme yang rapat yang ada antara Islam dan Barat. Perlu dicatat bahwa a!­Ghazali berbicara dan tinjauan teologi Islam sementara para pemikir yang dise­but di atas, jika mereka pernah mengam­bil manfaat dan ide-ide al-Ghazãli, meng­ambil ide-ide itu tanpa melihat kontek­snya dan menggunakan ide-ide tersebut untuk tujuan mereka.

Saya yakin bahwa untuk memasukkan al-Ghazãli di antara para pionir sains mo­dern dapat dan akan mengejutkan para pembaca, karena hampir setiap orang, ter­masuk para ahli sejarah sains terkenal Se­perti J. J. Saunders, Giorgia de Santillana, dan bahkan Seyyed Hossein Nasr setuju bah­wa serangan-serangan al-Ghazãli kepada para filosof itu merupakan sebab utama keruntuhan ilmiah dalam Islam, tetapi tidak ada klaim yang lebib mendekati kebenaran ketimbang ini.

Bagaimana Al-Ghazali, seorang pemikir religius yang tanpa kuasa politik, mampu menghentikan perkembangan sains hanya oleh dirinya sendiri? Padahal, seperti kita lihat nanti, sains terus berkembang dalam Islam bahkan setelah AI-Ghazali. Kemudian, Al-Ghazã!i sendiri tidak pernah menyerang sains, tetapi metafisika Aristoteles yang dikembangkan oleh Al-Fãrãbi dan Ibn Sina.

Mengenai sains ia menulis:

MATEMATIKA. [Ilmu] ini me­liputi aritmetika, geometri dan as­tronomi. Tidak ada dan hasil-hasilnya yang berhubungan dengan masalah­masalah agama, baik yang menolak atau­pun yang menegaskannya. Ilmu ini adalah masalah-masalah demonstrasi yang tidak mungkmn ditolak jika ilmu ini dipahami dan dikuasai...

LOGIKA. Tidak ada dalam ilmu logika yang relevan dengan agama baik dengan cara penolakan ataupun penegasan terhadapnya.

ILMU ALAM ATAU FISIKA. Ini merupakan investigasi bola langit dan ben­da-benda langit, dan tentang apa yang di bawah langit, baik benda-benda sederha­na seperti air, udara, bumi, api, ataupun benda-benda komposit seperti binatang, tetumbuhan dan mineral, dan juga tentang sebab-sebab perubahan, transformasi dan~ kombinasi-kombinasinya. ini sama dengan investigasi yang dilakukan obat atas tubuh manusia dengan organ-organ utama dan subordinatnya, dan tentang sebab-sebab perubahan temperamen. Seperti halnya tidaklah tepat agama menolak ilmu kedok­teran, begitu pula terhadap ilmu alam.

Al-Ghazãli mendukung matematika, astronomi dan ilmu alam dan menulis buku­buku tentang logika bagi. para teolog. Dia juga memperingatkan umat Islam untuk tidak menyerang sains, dengan menge­mukakan sebuah contoh dan astronomi:

Ada hal-hal yang dipercayai para filosof, dan yang tidak bertentangan den­gan prinsip agama... Contohnya adalah teori m~reka bahwa g~rhana bulan terja­di ketika cahaya Bulan hilang sebagai aki­bat dan letak Bumi yang berada di antara Bulan dan Matahari. Karena Bulan itu mendapatkan cahayanya dan Matahari, dan Bumi itu organ bulat yang dikelilingi oleh Langit dalam setiap sisinya. Oleh karena itu, ketika Bulan jatuh di bawah bayang-bayang Bumi, cahaya Matahari itu terpotong darinya. Contoh lain adalah teori mereka bahwa gerhana matahari berarti letak Bulan berada di antara Ma­tahari dan pengamat, yang terjadi ketika Matahari dan Bulan berada pada perte­muan titik (node) pada derajat yang sama. Kita tidak tertarik untuk menolak teori­teori seperti itu, karena penolakan itu tidak punya tujuan apa-apa. Orang yang berpikir bahwa adalah kewajiban keber-agamaan­nya untuk tidak mempercayai hal-hal tersebut betul-betul b~rtindak tidak adil terhadap agama, dan akan melemahkan fondasinya. Itu karena hal-hal ini telah kukuh depgan bukti-bukti astronomis dan matematis yang tidak meninggalkan ruang keraguan. Jika anda memberi tahu seseo­rang, yang telah mempelajari hal-hal ini— yang dengan itu membuatnya meragukan seluruh data yang berhubungan dengan hal-hal tersebut, dan ketika dia berada dalam posisi untuk memprediksi kapan gerhana bulan atau matahari akan terjadi; apakah ia akan terjadi secara total atau parsial~ dan seberapa lama ia akan terja­di—bahwa hal-hal ini bertentangan den­gan agama, pernyataan anda itu akan meng­goncangkan keimanannya pada agama, tidak dalam hal-hal tadi. Perusakan yang dilakukan pada agama oleh penolong [aga­ma] yang tidak metodologis adalah lebih besar daripada oleh musuh yang tindak­an-tindakannya, betapapun sengitnya, tetap sesuai aturan. Karena seperti yang disebutkan oleh peribahasa, musuh yang bijak lebih baik daripada teman yang bodoh.

ImageWalaupun al-Ghazãli mendukung sains secara intens, dia melakukan kritik ter­hadap metafisika Aristoteles yang dikembangkan oleh Al-Fãrãbi dan lbn Sinã. Tetapi untuk melakukannya ia harus mempelajari filsafat secara otodidak, kare­na di dunia Islam seseorang tidak mungkin mempelajari filsafat di sekolah ataupun madrasah, yang muncul belakangan dan tidak pernah memasukkan filsafat dan ilmu-ilmu alam dalam kurikulumnya. ltu­lah mengapa lbn Sinã dan Al-Ghazãli mem­pelajari filsafat secara otodidak. Apa yang menarik adalah, Al-Ghazãli sendiri adalah professor ilmu-ilmu Islam pada Madrasah Nizamiyah di Baghdad. Ketika ia berupaya untuk mengkritik filsafat, ia mengkajinya dalam waktu luangnya dan mempelajarinya selama dua tahun. Dalam tahun ketiga ia mengasimilasi dan meng­evaluasi apa yang telah ia pelajari sebe­lumnya. Dan situlah kemudian Ia siap un­tuk menulis buku terkenalnya, Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filosof) setelah tiga tahun. Seperti yang ia katakan:

Saya menyadari bahwa untuk inenolak suatu sistem sebelum memahami dan mempelajari keda lam­annya adalab tindakan membabi-buta. Oleh kare­na itu saya memulai dengan segala keseriusan untuk mendapatkan pengetahuan tentang filsafat dan buku­buku, dengan kajian sendiri tanpa pertolongan dan seorang pembiinbing. Demi tujuan ini saya menghabiskan waktu Lu­ang saya setelah mengajar ilmu-ilmu agama dan penulisan, karena pada periode ini saya dibebani oleh tugas mengajar dan membimbing tiga ratus murid di Baghdad. Dengan bacaan saya sendiri selama waktu-waktu sibuk tersebut Tuhan telah meinbuat saya mengerti secara utuh ilmu-ilmu para filosof se!a­ma kurang dari dua tahun. Sejak itu saya dengan bersungguh-sungguh terus melakukan rejleksi sela­ma satu tahun tentang apa yang telah saya pahami, didiskusikan dalam pikiran saya secara terus me­nerus dan mengorek liku-liku kedalamannya, sampai saya pahami secara yakin dan pasti sejauhmana ia palsu dan memusingkan dan sejauh mana ia benar dan merupakan representasi dan realitas.

Berbeda dengan Barat, yang sejak abad ke- 13 para teolog pertama-tama menjadi para filosof dengan menghadiri fakultas sastra untuk mempelajari filsafat, khususnya, filsafat alam Aristotelian, se­belum melanjutkan pada fakultas teologi, dalam Islam, para teolog (mutakallimün) dan para filosof itu terpisah dan independen. Kaum mutakal!imun mengembangkan metafisika Islam, yang juga termasuk di da!amnya kepercayaan dalam atomisme (occasionalism), tanpa berada di bawah pe­ngaruh para filosof Yunani. Di sisi lain, para filosof seperti Al-Fãrãbi dan Ibn Sinã mempertahankan Aristotelianisme Neo­Platonis. Maka dalam Islam terdapat dua sistem metafisika yang bertentangan— satu dimiliki oleh mutakalimun dan yang lain dimiliki oleh para-pengikut Aristoteles, yaitu al-Farabi dan Ibn Sinã. Tentu saja, Al-Ghazali tidak membiarkan rivalitas dan situasi pertentangan irii berlanjut begitu saja. Untuk itulah ia secara efektif meng­hancurkan dua puluh ide-ide Aristoteles dan mengkafirkan al-Fãrãbi dan Ibn Sinã dalam tiga poin dan bid’ah dalam tujuh belas poin. Ia menulis:

Pandangan-pan­dangan Aristoteles, seperti yang dikem­bangkan oleh al-Fãrãbi dan lbn Sinã, itu sebe­tulnya dekat dengan pandangan para penulis Islam. Seluruh kesalahan mereka dapat dirangkum dalam dua puluh poin, tiga diantaranya mereka harus dianggap kafir dan tujuh belasnya sebagai bid’ah. Saya menyusun Kerancuan para Filosof adalah untuk menunjukkan ke­salahan pandangan-pandangan mereka dalam dua puluh poin itu. Tiga poin yang membuat mereka berbeda dan semua umat Islam adalah seperti berikut:

(a) Mereka mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan kembali bagi tubuh; han­ya roh yang diberi pahala atau disiksa, dan pahala dan siksa itu pun bersifat spiritual, tidak badani. Mere­ka betul-betul berbicara benar dalam menegaskan yang bersifat spiritual, karena memang hal itupun terjadi; tetapi mereka berbicara salah dalam menolak yang bersifat badani dan dalam pernyataan mereka itu tidak niengimani wahyu Tuhan.

(b) Mereka mengatakan bahwa Tuhan mengetahui universalia tetapi tidak rriengetahui partikularia. ini juga jelas­jelas tidak beriman. Yang benar ada­lah bahwa ‘tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya yang ada di langit dan yang ada di bumi’ walau seberat atom pun’ (Qs. 34, 3).

(c) Mereka mengatakan bahwa dunia itu kekal, tanpa awal. Tetapi tidak ada umat Islam yang mengadopsi pandan­gan demikian dalam persoalan ini.

Untuk memasuki suatu periode baru seperti Renaissance dan kemudian untuk mencapai Revolusi llmiah; prasyarat per­tama adalah menghancurkan pegangan pada Aristoteles, yang Al-Ghazali lakukan secara menakjubkan dalam Tahafut al-Falãsi­fah-nya di penghujung abad ke- 11. Seper­ti akan kita lihat, dan tahun 1210 hingga 1277 dan juga pada masa Renaissance, Barat juga mencoba untuk menghancurkan otoritas Aristoteles. Khususnya pada tahun 1277, orang-orang Barat pada hakikatnya mengulangi apa yang al-Ghazãli telah Ca­pai dengan Tahafut aI-Falãsifah, tetapi dalam cakupan yang lebih luas. Walaupun al­Ghazãli telah menolak dua puluh ide-ide bid’ah Aristoteles yang didukung oleh Al-­Fãrãbi dan Ibn Sinã, orang-orang Barat baru menolak ide-ide Aristoteles, Ibn Rushd dan Thomas Aquinas sebelum me­masuki periode baru.

Dan sudut pandang progresif ala Kuhn, apa yang Al-Ghazãli capai sebetulnya adalah menghancurkan riritangan-rintangan yang menghalangi kemajuan sains dan teknologi dan mensuplai sains modem dengan fonda­si-fondasi metafisika barn, yaitu filsafat me­kanika. Kita tahu bahwa tanpa fondasi metafisika, sains tidak dapat berkembang. Itulah sebabnya mengapa pencapaian al­Ghazãli itu lebih dan fenomenal.

Al-Ghazãli pernah melewati suatu periode skeptisisme personal yang dalam masa itu Ia bahkan meragukan kebenaran persepsi indera dan matematika. Ia mem­bandingkan kesadaran dengan mimpi. Be­lakangan, ia sekali lagi mulai mempercayai logika, matematika dan ide-ide ‘swa-buk­ti’ (self-evident) lainnya. Seperti kita ket­ahui, gambaran-gambaran ini juga ada dalam filsafat Descartes. Perbedaan uta­ma antara keduanya adalah bahwa Al­-Ghazãli bekerja di dalam kerangka teologi Islam sementara Descartes menempatkan titik tekannya pada pikiran manusia.

Seperti telah kita singgung sebelum­nya, kaurn mutakalimün percaya pada atom­isme, dan al-Ghazãli juga mendukung atomisme kalãm. Barangkali karena mengikuti contoh kaum mutakalimün dan Al-Ghazãli, Pierre Gassendi mengkompro­mikan atomisme dengan iman Kristen. Walaupun Gassendi membangkitkan kembali atomisme Epicurean, atomisme kalãm itu unik dan sangat berbeda. Misal­nya, menurut Gassendi, kualitas-kualitas sekunder hanya ada dalam pikiran manu­sia, tetapi menurut atomisme kaldin, kual­itas-kualitas sekunder itu merupakan bagi­an atau aksidensia dan atom-atom indi­vidual, yaitu melekat di dalamnya secara alami.

Demikian juga terdapat kesamaan yang menarik antara pandangan~pandang­an al-Ghazãli dan David Hurne. Misalnya, al-Ghazãli menyatakan bahwa “hubungan antara apa yang dipercayai sebagai sebab dan akibat itu bukan keharusan” walau­pun “ norma pada masa lalu itu tetap berkesan dalam pikiran kita. Sebagai­mana kita ketahui, Hume juga menge­mukakan ide-ide ini pada abad ke-18.

Menarik sekali, kita menernukan akhir dan kalimat David Hume dalarn Di­alogues concerning Natural Religion yang secara tepat rnenggambarkan krisis skeptisisme personal Al-Ghazali jika kita mengganti kata-kata Kristen” dengan “Muslim”:

Seorang manusia, yang berpengala­man dengan perasaan yang benar tentang ketidaksempurnaafl rasio alarniah, akan terbang untuk menen~ukan kebenaran de­ngan kehausan yang sangat... Menjadi se­orang skeptis filosofis adalah, yang harus dicatat, langkah pertama yang paling esen­sial menjadi [Muslimi yang beriman te­guh.

Setelah al-Ghazãli, sains dalam Islam terus berkembang, terutamanya dalam aritmetika dan astronomi. Misalnya, se­kitar dua puluh astronom bekerja sama dalam observatorium Maragha di Timur pada abad ke- 13 dan mengumpulkan data selarna dua puluh tahun. Sejauh yang kita ketahui inilah observatorium terorgani­sir yang pertama yang di dalamnya terkons­truksi instrumen-instrUmen dan juga per­pustakaan. Walaupun mereka bekerja di dalam kerangka astronomi Ptolemaik, mereka juga melakukan kritik terhadap­nya. Itulah mengapa kepala observatori­urn ini, Na~ir al-Din al-’füsi dan murid­nya, Quçb al-Din al-Shirãzi bekerja sarna membangun model yang lebih konserva­tif dalarn menerima gerak seragarn (uniform motion) ketimbang sistem Ptolemaik. Be­lakangan, dalam sistem Copernican, kita juga menemukan sikap konservatif yang sama. Pada abad keempat belas Ibn al­Shã~ir, seorang astronom Damaskus, menyempurnakan model Tusi dan Shirãzi dengan mengernbangkan model-model planet yang non-Ptolemaik dan teori lu­nar (bulan).

Terdapat kesamaan yang menarik an­tara teori-teori planet lbn al-Shãtir dan Copernicus, walaupun teori yang satu itu geostatik dan teori yang lain adalah he­liostatik. Dalam kata-kata E. S. Kennedy dan Victor Roberts:

Mekanisme planet lbn al-Shatir itu cukup berbeda dan mekanismenya Coper­nicus dalam arti bahwa alam yang satu itu bersifat geostatik dan yang lain itu heliosta­tik. Dalam hal-hal lain, terutama dalam kasus Merkurius dan Venus, solusi-solusi yang ada dalam De Revolutionibus-nya Copernicus Un­tuk planet-planet yang sama menunjukkan kesamaan yang menakjubkan dengan apa yang dihasilkan oleh sumber kita.

Walaupun basis teknis bagi heliosen­trisme telah ada, umat Islam tidak ingin berpisah dan sistem Ptolemaik agar pan­dangan-dunia Islam (Islamic worldview) saat itu tidak terganggu. Seperti yang dikata­kan oleh Seyyed Hossein Nasr:

Astronomi Islam.. . tidak menghan­curkan ikatan-katan sistem Ptolemaik yang tertutup, yang begitu terikat dengan pan­dangan dunia pertengahan. Adalah benar bahwa banyak dan astronom Muslim ke­mudian mengkritik berbagai ~spek dan astronomi Ptolemaik. Adalah jelas juga bahwa astronom-astronom seperti al-Biru­ni mengetahui tentang kemungkinan ge­rak lonjong (elliptical motion) planet-planet, bukannya gerak melingkar (circular motián). Tetapi tidak seorang pun melakukan, atau­pun mampu melakukan, Iangkah untuk bertentangan dengan pandangan dunia~tra­disional, seperti halnya yang terjadi pada masa Renaissance di Barat—karena hal itu akan berarti tidak hanya suatu revolusi dalam astronomi, tetapi juga kegoncang­an dalam wilayah-wilayah religius, filosofis, dan sosial. Tidak seorang pun dapat memperkirakan pengaruh revolusi astronomi pada pikiran manusia. Dan se­lama hirarki pengetahuan tetap utuh dalam Islam, dan scientia terus tertanam dalam dada sapientia, “limitasi” tertentu dalam wilayah fisik itu diterima agar da­pat memelihara kebebasan ekspansi dan realisasi dalam wilayah spiritual. Tembok kosmos itu dipelihara, agar dapat menja ga makna simbolis yang visi kosmosnya telah membatu pada kebanyakan manusia. ini seolah-olah para ilmuwan dan sarjana dulu telah meramalkan bahwa menghan­curkan dinding ini berarti akan menghan­curkan kandungan kpsmos simboliknya, dan bahkan menghilangkan makna “kos­mos” (yang secara literal berarti tatanán) bagi mayoritas manusia, yang untuk merekalah kita sulit mengkonsepsikan Ia­ngit sebagai materi pijar yang berotasi di ruang angkasa dan pada saat yang sama sebagai singgasana Tuhan. Dan begitu pula, walaupun terdapat berbagai kemungkinan teknis, Iangkah menuju penghancuran pan­dangan alam tradisional tidak akan diam­bil, dati umat Islam tetap puas dengan mengembangkan dan menyempurnakan sistem astronomi yang diwarisi dan bang­sa Yunani, India, dan Persia, dan yang te­lah terintegrasi secara penuh ke dalam pandangan alam Islam.

Lagi-lagi terdapat kesamaan yang ra­pat antara instrumen-instrumen Tycho Bra-he dan para astronom yang bekerja pada observatorium Maragha. Demikian juga, seperti dibuktikan oleh Prof. Sevim Tekeli dalam tesis doktoralnya dan dalam bebe­rapa artikel, instrumen-instrumen yang di­gunakan oleh Takiyuddin, seorang astro­nom Turki Usmani pada abad ke-16, ada­lah hampir sama dengan yang dipakai oleh Tycho Brahe.



Sains Barat Pertengahan

Eropa sungguh beruntung dapat meni­kmati stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi setelah abad ke- 11. Jika saja o­rang-orang Mongol menginvasi keseluruh­an Eropa, yang mereka mampu lakukan, orang-orang Barat tidak akan mendapat­kan stabilitas dan kemakmuran yang cu­kup untuk bisa sukses menyempurnakan Revolusi Ilmiah (Scientific Revolution). Seper­ti kita ketahui, orang-orang Mongol, se­telah mengambil Silesia pada tahun 1241, kembali ke negeri mereka, sejak raja mereka di Mongolia mati dan mereka harus memilih pemimpin baru mereka.

ImageDengan mewarisi pencapaian-penca­paian pengetahuan Islam dalam berbagai area melalui penerjemahan dan kontak­kontak personal dan juga dengan pemin­jaman dan penggunaan kompas magnetik, mesiu, teknik-teknik pembuatan kertas dan percetakan dan umat Islam, orang­orang Barat mulai membangun struktur sains dan teknologi modern.

Sains pertama-tama dikawinkan de­ngan iman Kristen rnelalui agensi wahyu, yaitu melalui gereja, sebab universitas­universitas di abad pertengahan, yang merupakan tempat dimana para mahasiswa diajarkan tujuh materi dan Liberal Art dan filsafat alam Aristotelian, itu berada di bawah kekuasaan gereja.

Di Barat, sains terus berkembang dan tidak pernah ketinggalan peluang seperti halnya dalam kasus Islam, terutamanya disebabkan oleh institusi-institusi pendi­dikan khas yang disebut universitas. Komunitas filosof dan mahasiswa terbesar pada Abad Pertengahan mempelajari ide-ide Aristoteles melalui interpretasi dan kornentar-komentar lbn Sinã dan lbn Rushd pada institusi-institusi ini dan men­coba mengembangkannya lebih jauh. Dengan kata lain, disebabkan oleh matriks disiplin yang sama, yaitu Aristotelianis­me, para mahasiswa dilatih di dalam pan­dangan alam (woridview) Aristotelian. Den­gan demikian, sebagai hasil dan standard­isasi pendidikan, professor dan mahasiswa dapat berpindah dan satu universitas ke universitas yang lain.

Anak-anak laki-laki pada usia tiga be-las atau empat belas tahun, setelah mem­pelajari tata bahasa Latin, mulai mengha­din perkuliahan pertama pada fakultas sas­tra, yaitu fakultas sarjana yang merupakan prasyarat bagi fakultas-fakultas lanjutan atau pasca-sarjana. Setelah menerima ge­lar masternya dan fakultas tersebut dalam empat tahun, mahasiswa dapat mengha­din salah satu fakultas lanjutan seperti fakultas kedokteran, fakultas hukum dan fakultas teologi. Fakultas kedokteran menuntut lima dan enam tahun, fakultas hukum tujuh atau delapan tahun dan fakul­tas teologi delapan hingga enam belas tahun untuk menyempurnakan program­nya yang relevan. golongan pendeta) dan para guru (pro­fesor) adalah anggota gereja. Karena itu mereka, termasuk para pengikut lbn Rushd, tidak dapat menerima ide bahwa filsafat adalah sumber satu-satunya kebe­paran. Itulah sebabnya mereka harus me­milih sikap skeptis dan kritis terhadap Aristotelianisme dalam rnasalah-masalah yang bertentangan dengan wahyu. Maka rekonsiliasi antara ilmu dan agama yang dicapai oleh Albert the Great dan Tho­mas Aquinas dan pengutukan-pengutukan yang dikeluarkan oleh gereja itu bukan­

lah sebab utama dan pemikiran hipotetis seperti yang biasa diasurnsikan. Hal itu hanyalah penopang bagi pendekatan skep~ tis dan kritis yang umum yang telah ada dan sejak awal karena gereja menjadi agen penopang wahyu. Dengan demikian, di Barat, keberadaan gereja menentukan ben­tuk pemikiran ilmiah.

Pada permulaan abad ke-13 orang­orang Barat telah menerjemahkan hampir seluruh buku Aristoteles, para filosof Yu­nani lain, dan para filosof, teolog dan ii­muwan Islam, dan Bahasa Arab ke Latin. Mereka menerima risalah-risalah teknis tentang astronomi, optik, astrologi, matematika, kimia dan kedokteran secara antusias dan dengan keasyikan tersendiri, sejak mereka dapat menutup jurang keter­pisahan yang ada. Tetapi buku-buku Aris­toteles itu berbeda karena ide-ide bid’ah yang dibawanya. Sementara al-Ghazãli telah mempersiapkan ide-ide yang ditu­angkannya dalam Tahafut al-Falasifah selama tiga tahun, orang-orang Barat menghabis­kan sekurang-kurangnya sepuluh tahun untuk mencoba memahami implikasi-im­plikasi dan ide-ide Aristoteles seperti yang ditafsirkan lbn Sinã. Reaksi pertama atas Aristotelianisme muncul pada tahun 1210. Untuk meredakan tuduhan bahwa para mahasiswa itu mempelajari panteis­me di fakultas sastra di Paris, Synode (muk­tamar gereja) Provinsi Sens menegaskan bahwa siapa saja dosen dan mahasiswa fakultas tersebut yang membaca buku­buku Aristoteles ataupun komentar-ko­mentar Ibn Sina akan dihukum dengan pengucilan. Lima tahun kemudian per­nyataan yang sama diperbarui. Pada seki­tar tahun 1230 orang-orang Barat mulai membaca komentar-komentar Ibn Rushd untuk mempelajari ide-ide ash Aristote­les ketimbang membaca versi Neoplato­nis yang ditawarkan Ibn Sina.

Mengikuti semangat pernyataan tahun 1210 dan 1215, pada tahun 1231 Paus Gre­gory IX memerintahkan untuk membuat suatu komite untuk membuang ide-ide bid’ah yang muncul dan buku-buku Aris­toteles dan kom entar-komentarnya. Sejauh yang kita ketahui, komite itu tidak pernah kompak dan gagal melaksanakan perintah tersebut. Akibatnya, pada tahun 1240-an, utamanya setelah kematian Gregory IX, sensor atas Aristoteles dan komentar-ko­mentarnya kehilangan kekuasaannya, dan Roger Bacon mulai mengajarkan ide-ide Aristoteles kepada mahasiswanya pada fakultas sastra di Paris.

Pada tahun 1255, disebabkan oleh sta­tuta baru, adalah wajib bagi para mahasiswa fakultas sastra (faculty of arts) untuk mem­pelajari ide-ide Aristoteles untuk menda­patkan gelar master mereka. Pada periode antara 1255 dan 1270, Albert the Great dan Thomas Aquinas mengkompromikan filsafat alam Aristotelian dengan iman Kristen. Tetapi pada periode yang sama para pengikut lbn Rushd seperti Siger de Bra­bant dan Boethius of Dacia secara publik di fakultas sastra Paris mempertahankan ide kekekalan dunia, kesatuan akal (doktrin lbn Rushd tentang monopsikisme), dan ketidakmungkinan kebangkitan kembahi badan yang mati.

Pada tahun 1270 Etienne Tempier, Usk­up Paris, mengutuk tiga belas proposisi Aris­toteles termasuk ide-ide yang dijelaskan di muka. Karena pengutukan ini tidak sepenu­hnya mengurangi semangat Aristotehianisme radikal, maka pada tahun 1277 ia bereaksi atas Aristotehianisme dengan lebih keras dengan mengutuk 219 pnoposisi Anistote­les, lbn Rushd, dan Thomas Aquinas.

Dengan pengutukan pada tahun 1270 dan 1277, orang-orang Barat mengikuti gaya al-Ghazãli yang pada akhir abad ke­11 telah mengkritik dua puluh poin Aris­totelianisme. Sementara orang-orang Barat atau Etienne Tempier membuat daftar ide-ide bid’ah, al-Ghazãli telah menulis Se­buah buku yang mengagumkan yang me­nentang ide-ide bid’ah Aristotelianisme tersebut. Dengan demikian, prestasi a!­Ghazali itu lebih bermakna, lebih akade­mis, dan lebih berkesadaran. Ralph Ler­ncr, Muhsin Mahdi dan Ernest L. Fortin telah mengemukakan karakter pengutukan tahun 1277 yang tidak sistematis itu sbb:

Orang-orang tidak niampu memasti­kan apakah proposisi-proposisi itu diam­bil secara tekstual dan tulisan-tulisan Aris­totelian. Tidak ada upaya yang nampak dibuat mereka untuk memperkenalkan satu susunan logis. Terlebih lagi, disebab­kan kekurangan konteks langsung, maknanya yang tepat tetap saja kabur. Walaupun nampak dipengaruhi oleh Aye­rroisme, banyak proposisi-proposisi itu yang merepresentasikan versi kasar dan pengajaran Averroistik yang ash.’9

Pengutukan atau penolakan atas ide-ide bid’ah Aristoteles telah melemahkan pe­gangan pada Aristotehianisme dan mendo­rong munculnya alternatif-altematif dan pan­dangan dunia Aristotelian (Aristotelian world­view). Belakangan, dalam periode Renaissance, gerakan anti-Aristotelian ini telah memun­culkan mistisisme dan animisme.



Zaman Renaissance

Renaissance, Abad Kelahiran Kembali, antara rentang tahun 1350 hingga 1550, dimulai pertama-tama di Italia dan bela­kangan menyebar ke Eropa Utara. Menurut kaum humanis Renaissance, berlangsung sejak keruntuhan lmperium Romawi, za­man kegelapan di Eropa berlangsung se­lama seribu tahun. Periode, yang juga di­sebut Abad Pertengahan (Middle Ages), ber­sifat tidak produktif, mandeg, dan gelap. Ini disebabkan oleh keringnya logika dan metafisika Aristotelian. Sebagai reaksi melawan spekulasi yang gagal dan Sko­lastikisme dan Kristen, mereka memfokus­kan perhatian pada ide-ide tentang figur­figur klasik dalam sastra, arsitektur dan seni. Tetapi tujuan mereka sebenarnya adalah untuk menciptakan zaman baru.

Untuk mencapai zaman baru, orang­orang Eropa mulai menggunakan teknolo­gi. Setelah mengkonstruksi hukum-hukum dan membangun kapal-kapal yang lebih canggih, mereka mulai mengeksplorasi dunia dan menemukan tanah-tanah baru. Dengan perjalanan-perjalanan penemuan itulah mereka menemukan emas, budak dan rempah-rempah di tanah-tanah baru dan, agar dapat mengeksploitasi sumber­sumber dan orang-orang di tanah baru itu lebih lanjut, mereka pun menjajahnya. Maka dan abad kelima betas itulah mere­ka mulai mendominasi dunia.

Datam sains, mereka memberontak melawan Aristotetianisme dan memper­lemah cengkeramannya dengan meng­angkat kembali filsafat-filsafat kiasik Se­perti Platonisme, Pythagoreanisme, skep­tisisme, dan animisme (Hermeticism) Dengan demikian, seperti a!-Ghazãli, mereka tidak mengikuti otoritas Aristoteles.

Dalam periode knisis ini, para pemikir, ilmuwan, dan filosof percaya bahwa alam semesta (universe) merupakan satu organis­me dan selalu terdapat kekuatan gaib di mana-mana. Kekuatan-kekuatan superior

yang dimiliki oleh organ-organ langit da­pat mempengaruhi kekuatan-kekuatan in­ferior. Dengan ide-ide inilah Renaissance menjadi sebuah periode magis par excellence, sejak itu magi atau anti-rasionalisme un­tuk pertama kalinya mendapatkan status intelektual. Dengan demikian, periode ini, yang di dalamnya terjadi pemburuan para penyihir, bukanlah serasional seperti yang biasa diperkirakan, dan sebenarnya periode ini adalah periode anti-ilmiah.



Filsafat Mekanika

Image
Sir Isaac Newton
Filsafat mekanika yang menjadi fondasi sains modern bereaksi melawan animisme Renaissance. Secara bertahap, filsafat mekani­ka sebagai’ alternatif bagi Aristotelianisme maupun animisme menjadi paradigma do- minan pada abad ketujuh belas dan menca­pai puncaknya pada Isaac Newton.

Descartes, Kepler, Galileo, Boyle dan para filosof mekanika lainnya membeda­kan antara kualitas primer dan kualitas sekunder untuk mencopot animisme dan alam. Menurut mereka, kualitas-kualitas primer (properti geometris) dimiliki alam, teta­pi kualitas-kualitas sekunder seperti war­na, kehalusan, kekerasan, rangsangan, dan rasa pahit hanya muncul dalam pikiran manusia (human mind).

Untuk membuat alam itu pasif dan berbeda, Descartes juga memisahkan pikir­an dan tubuh (materi, alam). Pikiran (mind) itu hidup, aktif, dan immaterial, sementa­ra tubuh, alam atau materi adalah pasif. Pikiran itu bukan materi dan materi bukan pikiran. Misalnya, pikiran tidak menempati ruang, tetapi materi menempatinya, kare­na materi adalah keluasan (extension).

Seperti kita semua ketahui, Descartes pertama-tama membuktikan eksis­tensi pikiran dengan meragukan segala Se­suatu. Walaupun ia dapat meragukan segala sesuatu, dia tidak dapat meragukan bah­wa ia sedang meragui. Maka ia mempun­yai proposisi pertama yang diyakininya: cogito ergo sum. Ia belakangan membukti­kan eksistensi Tuhan dengan berdasarkan pada ide tentang wujud sempurna dalam pikirannya. Dengan demikian, dengan menjadikan teologi sebagai sekunder dan kekuasaan Tuhan atas alam sebagai tidak efektif, ia membuka jalan bagi filsafat seku­lar dan mekanika.

Dengan cara inilah orang-orang Ba­rat memisahkan alam dan pikiran dan Tu­han agar dapat memahami dan memanipu­lasinya dalam kerangka Francis Bacon. Maka, jika kita menggunakan istilah Al­exander Koyre, alam menjadi “dijinakkan” (devalorized). Sebagaimana Prof. Syed Mu­hammad Naquib al-Attas secara tepat menggambarkannya:

Revolusi Cartesian pada abad ke-17 rnenghasilkan dualisme final antara materi dan spirit dalam cara yang membuat alam dibiarkan terbuka untuk dikaji dan me­layani sains sekular, dan meletakkan manu­sia dalam tingkatan dimana tidaic ada yang lain kecuali dunia yang ada di tangannya.

Descartes ingin memahami dasar re­alitas dengan keyakinan. Untuk tujuan ini ia menggunakan kekuatan rasionalnya dan memproses secara deduktif dengan meng­gali sebab-sebab fenomena. Misalnya, Descartes mengklaim dapat mengetahui esensi materi. Baginya, mateni adalah ke­luasan (ekstensi). Dan. asumsi dasar ini ia secara deduktif menyimpulkan bahwa ru­ang hampa tidak dapat eksis dan bahwa alam semesta itu penuh (plenum). Agar da­pat menjelaskan fenomena umum dalam kepenuhan itu, ia secara fiktif menemu­kan tiga jenis materi yang pada gilirannya digunakan untuk gerak planet dan fenom­ena lain seperti gravitasi, cahaya dan ge­rak. Walaupun Descartes menggunakan metode matematika, yaitu metode deduk­tif, ia tidak dapat mematematisasi filsafat mekanikanya disebabkan penekanannya pada sebab-sebab fenomena dengan pendekatan metafisika atau hipotetis.

Seperti yang diindikasikan sebelum­nya, Descartes itu bukanlah satu-satunya arsitek filsafat mekanika. Misalnya, filosof mekanika lain, Gassendi, membangkitkan kembali dan mengknisteruisasi madzhab atomistik kuno dan menenima kesimpul­an-kesimpulan skeptisisme dengan mene­kankan kompleksitas alam. Berbeda de­ngan Descartes, ia mengklaim bahwa Un­tuk memahami esensi sesuatu itu tidak mungkmn dan bahwa satu-satunya yang dapat dibuat adalah mendesknipsikan pe­nampakan-penampakan (appearances).

Filsafat mekanika mempenganuhi Revolusi Ilmiah, yang pada gilirannya memainkan peran penting baik pada masa Pencerahan maupun Revolusi Perancis, tetapi sains mendapatkan kekuatan yang sebenarnya ketika ia mulai mempengaru­hi teknologi dalam artian yang riil.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mudahnya Membuat Sendiri Backup Sistem Operasi Windows yg bersifat Universal


Tulisan ini tidaklah murni dari ide atau penemuan saya sendiri, tapi berasal dari halaman blogger seseorang namum saya sudah lupa alamat websitenya. Tujuan saya adalah saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Karena ilmu itu bukan milik siapa2 kecuali hanyalah milik Allah SWT.

Adapun maksud dari judul diatas yaitu kita diajak untuk membuat sendiri backup dari sistem operasi pada PC atau laptop yang biasa kita gunakan sehari-hari.

Ada beberapa pertanyaan yang perlu kita ketahui :
1. Kenapa harus mengerjakan sendiri? Alasannya yaitu karena proses mengerjakan memang mudah dan tools-nya (software) sudah tersedia.
2. Kenapa harus membuat backup? Alasannya yaitu agar jika sistem operasi yg sedang kita gunakan mengalami kerusakan maka dengan mudah kita dapat memperbaikinya tanpa harus melakukan installasi ulang. Dan waktu yg dibutuhkan jauh lebih cepat. Hasil backup-an adalah berupa file yg dapat disimpan di harddisk external kita misalnya.
3. Apa saja yg termasuk dalam hasil backup? Yaitu Operating System Windows, Semua Program Applikasi, Driver Hardware, Personal Setting dll, artinya semua hasil installasi akan terbackup penuh tanpa ada satupun yang dikurangi.
4. OS Windows apa saja yg bisa dibackup? Sampai saat ini saya sudah mencoba dari winxp, vista dan win7. Dan telah berhasil.
5. Apa maksudnya Universal? Maksudnya hasil backup-an dapat dipergunakan pada PC atau laptop lain yang jenis hardware-nya berbeda. Nah inilah kelebihannya dari backup yang akan dibuat.

Nah, untuk membuat backup sistem operasi ini kita hanya butuh dua aplikasi utama yaitu SPAT (System Preparation Assisted Tool) dan Skydriver atau easy driver pilih salah satu dari kedua kumpulan driver ini, silahkan anda searching di internet.

Berikut ini analoginya.
1. SPAT adalah aplikasi yg menjalankan fungsi preparasi dan generalisasi. Dimana akan membuat Windows terkonfigurasi pada kondisi standart sehingga akan bekerja baik di segala jenis hardware.
2. SPAT akan membuat skydriver atau Easydriver berjalan otomatis sebagai pendeteksi driver yang dibutuhkan. Caranya lakukan setting pada setup mini.
2. Sky atau Easydrive akan terinstall setelah pada saat Windows di restart. Lalu kemudian driver yang tidak dibutuhkan akan dihapus, dan yang tinggal hanya yg dipakai oleh PC atau laptop saja.

Dahulunya hasil backup dari PC atau laptop tertentu akan gagal di-restore pada PC atau laptop lain karena masalah perbedaan hardware, nah sekarang dengan metode ini masalah tersebut sudah terpecahkan.


Ini dia urut-urutan langkah nya :

1. Install dan konfigurasikan OS Windows anda sebaik mungkin dan selengkap mungkin seperti yang anda inginkan atau butuhkan. Kemudian jalankan program maintenance atau tune-up atau cleaner agar os window lebih terasa ringan. Untuk aplikasi driver tidak masalah diinstall atau belum.

2. Ekstrak SPAT dimana saja boleh, tapi untuk Easydriver harus di C:\Sysprep, buat folder "Sysprep" pada C:\ atau rename saja folder ekstrakan easydrivernya dengan "Sysprep".

3. Siapkan gambar background untuk installasi mini setup. Misal setup.jpg (bisa 800x600 atau 1024x768 24 bit format jpg). Taruh gambar itu pada folder C:\Sysprep.

4. Jika semua sudah siap, jalankan saja SPAT*.EXE. Kita menuju ke menu tab "General" dan pilihlah "select all". Klik pada "Background picture" dan pilih setup.jpg yang sudah disiapkan (C:\Sysprep\setup.jpg).

5. Masuklah pada tab "Interface" dan pilihlah "Run before mini-setup" dan pastikan menambahkan C:\Sysprep\Easydrv.exe (atau nama semisalnya dari Skydriver atau easydriver).

6. Masuklah ke tab "Reseal" dan pilihlah/centang hal-hal yang anda sukai.

7. Kembali ke tab "General" dan klik "sysprep".

8. Sysprep akan bekerja 2 - 5 menit, biarkan hingga berhenti sendiri dan window nya hilang sendiri. Setelah selesai tunggu sekira 1 menit, lalu Shutdownlah Windows anda.

9. Seletah dishutdown jangan nyalakan PC atau laptop anda sebelum membackup partisi sistem-nya ( atau drive C ), untuk membackup anda bisa siapkan booting dari CD atau USB yang ada tools backup seperti misalnya Norton Ghost atau aplikasi backup lainnya (saran saya gunakan Hiren's Boot CD).

Selamat mencoba dan bahagia....(tidak ada alasan lagi untuk install windows berjam-jam).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Temuan Ilmiah Terbaru dan Al-Qur'an

Ayat Al Quran Dan Alam Semesta

Dalam Surat al-Isra ayat ke-88, Allah menunjukkan keagungan Al Quran:

"Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini; niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'" (QS. Al Isra: 88)

Allah menurunkan Al Quran kepada manusia empat belas abad yang lalu. Beberapa fakta yang baru dapat diungkapkan dengan teknologi abad ke-21 ternyata telah dinyatakan Allah dalam Al Quran empat belas abad yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa Al Quran adalah salah satu bukti terpenting yang memungkinkan kita mengetahui keberadaan Allah.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS